Tampilkan postingan dengan label Jamal Ahmad Badi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jamal Ahmad Badi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Agustus 2021

3 Tahap Penciptaan Manusia dan Bawha Takdir Telah Ditetapkan Sebelu Manusia Diciptakan (Syarah Hadis Arbain Nomor 04)

 


HADIS 4

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahu anhu bahwasanya beliau berkata : Rasulullah Saw, seorang yang palingbenar dan dibenarkan, berkata kepada kami :

“Sesungguhnya (verily) setiap dari kalian dikumpulkan ciptaannya di perut  ibunya dalam waktu 40 hari sebagai mani, kemudian menjadi gumpalan darah pada waktu yang sama, kemudian menjadi gumpalan daging dalam durasi yang sama, kemudian dikirim kepadanya Malaikat, dan meniupkan ruh kepadanya. Malaikat ini diperintahkan untuk untuk menulis empat ketetapan : tentang ketetapan rizkinya (provision), tentang ketetapan ajalanya (life span), tentang amal perbuatannya (deeds) dan tentang nasibnya nanti apakah ia termasuk orang yang celaka (wretched) atau ia termasuk orang yang Bahagia (blessed).

Saya bersumpah demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan amalan ahli surga, terus seperti itu sampai jarak antara dia dengan surga tinggal satu dziro (sepanjang lengan, arm length), akan tetapi ia didahului (outstrip) oleh yang tertulis di kitab takdir, kemudian ia melakukan amalan ahli neraka dan memasukinya. Dan sungguh ada Sebagian dari kalian yang melakukan amalan ahli neraka, terus demikian sampai jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sejarak lengan, akan tetapi ia didahului oleh suratan takdir, kemudian ia melaksanakan amalan ahli surga dan kemudian ia memasukinya. (HR. Bukhari Muslim)

Latarbelakang

Hadis ini tidak hanya diriwayatkan dari al-Bukhari dan Muslim saja, melainkan dari segenap sahabat juga. Selain dari Abdullah bin Mas’ud, hadis ini juga diriwayatkan oleh sahabat lain.

Redaksi hadis yang disampaikan oleh Abdullah ibn Mas’ud ini berbeda dengan antara sahabat yang lain, hal ini juga kemudian menghasilkan keragaman makna terkait (regarding) proses penciptaan. Berikut beberapa perbedaan (conflict) yang dimaksud :

1.       Penambahan Kata Nuthfah

Redaksi ini tidak disebutkan dalam Bukhari dan tidak juga (neither) Muslim. Bagaimanapun, redaksi ini dicantumkan dalam narasi lain, termasuk dalam salah satu hadis yang dipilih oleh Imam al-Nawawi untuk menyediakan penafsiran dan penjelasan yang baik, akan tetapi, alih-alih demikian, penambahan inimemicu dua perselisihan pandangan terkait penciptaan manusia dalam tahapan-tahapan pembentukan janin :

Pandangan Pertama : Tiga tahapan pembentukan janun didesain (consist) setiap empat puluh hari, setara (equaling) dengan total 120 hari untuk melengkapi tahapan-tahapan (stages) tersebut. Ini berarti baru setelah 120 hari ruh ditiupkan ke janin, bersamaan dengan itu dicatat rizki, ajal, amalan dan takdirnya (destiny). Pandangan ini, yang menyertakan kata nuthfah, dipegang (held) oleh mayoritas sarjana.

Salah satu permasalahannya terkait dengan pandangan ini adalah mengenai tahapan-tahapan penciptaan janin yang disebutkan dalam hadis, bertentangan (contradict) dengan temuan sains hari ini

Persoalan berikutnya adalah mengenai (conecern) fatwa aborsi. Segenap sarjana mengatakan bahwa aborsi diperbolehkan (diperuntukkan bagi yang memiliki alas an yang kuat, seperti jika dengan hal tersebut kehidupan sang perempuan dalam bahaya) hanya sebelum ruh ditiupkan kepada janin, atau sebelum 120 hari, hal ini bertentangan/memiliki selisih (opposed) 40 hari dari yang dipandang oleh pendapat kedua

Pendapat Kedua :

Redaksi Nuthfah tidak termasuk (belong) sebagai bagian teks hadis. Perbedaan ini memicu perubahan/perbedaan makna hadis yang menginterpretasikan bahwa ada tiga tahap pembentukan janin tersebut terjadi pada 40 hari pertama kandungan. Pandangan ini cocok dengan temuan sains. Dan pandangan ini memahamkan bahwa ruh baru ditiupkan setelah 40 hari, bukan 120 hari. Akibatnya (consequently) fatwa tentang aborsi itu mengizinkan aborsi bisa dilaksanakan hanya setelah 40 hari kandungan.

2. Otentisitas Redaksi Terakhir Hadis

Beberapa sarjana mengatakan bahwa bagian terakhir hadis tersebut (dimulai dari Saya Bersumpah....) Bukan bagian yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melainkan yang diucapkan oleh Abdullah bin Masud. Akan tetapi koma hadits ini sesuai dimana kita terbatas untuk memandang (perceive) sesuatu diluar nalar kemanusiaan, hal ini kemudian yang membuat redaksi terakhir hadis tersebut diterima dan dinilai sebagai hadis, hal ini memungkinkan adanya upaya Abdullah bin Masud yang menyimpulkan dari hadis lain guna menjelaskan hadis ini dengan lebih baik. 

Di sana terdapat Hadits-hadits lain yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim, dengan isu yang sama. Akan tetapi ada beberapa perbedaan antara teks hadis tersebut dengan hadis yang satu ini. Hadits-hadits tersebut menarasikan bahwa Nabi Muhammad mengatakan : bahwa setiap dari kalian mungkin menampakan amalan ahli surga, hanya untuk tampil baik dimata orang. 

Ini merupakan ciri orang munafik, di mana mereka melakukan amalan-amalan orang yang beriman. Mereka tampak, dalam pandangan kita, melakukan amalan amalan ahli surga tapi Allah tahu kebenarannya. Mereka akan berakhir dengan celaka, lantaran mereka orang-orang munafik sejatinya aktivitas mereka adalah mengingkari pesan Tuhan dalam hati terdalam mereka, hal ini sebagaimana disebutkan dalam Alquran bahwasanya mereka akan berakhir di neraka lantaran mereka tidak mengakui Allah dalam hati mereka. Penjelasan ini, yang menggunakan hadits Sebagai pertimbangan lain, penting memahami sebuah hadis. 

*Pelajaran*

Beberapa sarjana berkata : ketika ingin mengadakan riset atau suatu konsep atau isu yang disebutkan dalam sebuah hadis, kita harus tidak bergantung kepada satu Hadis saja melainkan Kita harus mencari hadis lain dengan tema yang sama dan dengan redaksi yang sama. Kita harus mengetahui bahwa beberapa periwayat kadang meriwayatkan hadits dengan makna, tidak sesuai 100% dengan yang disampaikan oleh Nabi. Hal ini karena sebagai manusia, beberapa perawi mungkin lupa secara tepat apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, akan tetapi mereka memahami apa yang dikandung dalam hadis.

Maka kita perlu untuk membandingkan perbedaan teks hadis yang masih berada dalam satu tema untuk menghadirkan interpretasi yang lengkap dan pemahaman yang baik.

###

Beberapa orang yang mendengar hadits ini ini tanpa menelaah lebih lanjut mungkin akan merasa putus asa, khawatir dan takut tergolong sebagai kelompok yang buruk. 

Hadits ini juga akan memicu sebuah penentuan perasaan, Di mana mereka mungkin berpikir tidak penting apa yang akan kan kami lakukan jika toh ternyata takdir mereka sudah ditulis dan mengapa saya harus terganggu atau terusik untuk melakukan hal-hal yang baik? Ini merupakan kesimpulan yang salah yang dibangun atas persepsi yang salah. Allah itu adil. Kita harus percaya Allah. Apabila kita berlaku baik padanya dan mempercayainya maka ia akan berbuat baik kepada kita. Kita harus optimis dan tidak pesimistis. Kita mengikuti perintah perintah Allah dan melakukan upaya agar menjadi muslim yang baik dan tidak putus asa. 

Dalam suatu pertempuran seorang sahabat berkata kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, di mana dia berharap bahwa wa agar ada anak panah yang menembus lehernya, dari bagian depan sampai bagian belakang. Nabi Muhammad kemudian berkata, 'jika kamu jujur karena Allah maka Allah akan jujur kepadamu'. Kemudian sahabat tersebut terbunuh di jalan Allah sebagaimana yang diharapkan.

Ungkapan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di atas terbilang umum dan bisa dilaksanakan dalam berbagai kondisi. Jika kita jujur kepada Allah, maka Allah tidak akan meninggalkan kita. Dia akan menolong kita dan akan memandu kita. Semakin kita dekat dengan Allah semakin Dia menolong dan dan mengarahkan kita. Maka, redaksi terakhir hadis tersebut ( hadis 4 Arbain) merupakan sebuah pengecualian dan hanya ditujukan kepada beberapa orang yang seperti kaum munafiqun.

###

Akan tetapi, dalam tafsiran lain (on the other hand), bukan maksudnya kita hanya hidup berdasarkan pada harapan (akan rahmat dan kebaikan Allah) saja. Beberapa sarjana mengatakan bahwa kita harus memadukan antara harapan dan takut, manakala kita beribadah kepada Allah. Kita harus memiliki harapan dan rasa takut kepada-Nya. Takut kepada Allah adalah hal yang positif. Semakin kita takut kepada Allah semakin kita mendekat kepada-Nya. Semakin kita takut kepada Allah semakin tenang dan damai diri kita. Ini tidak seperti rasa takut yang natural kepada makhluk, di mana jika kita takut sesuatu, seperti menermukan api atau binatang berbahaya, kita malah akan pergi menjauh darinya.

Sejumlah sarjana mengatakan bahwa kita harus memiliki kadar harapan dan takut kepada Allah dalam jumlah yang sama. Dengan demikian kita akan memiliki iman yang lebih baik - kita tidak akan putus asa (despair) dan di saat yang sama kita tidak memiliki harapan berlebih (excussive hope) dan percaya diri berlebih (over confidence) yang mana hal tersebut akan memicu kemalasan dan ketidakmaksimalan kita dalam menjalankan kewajiban. Ini alasan mengapa kita butuh memadukan rasa harapan dan takut, hal ini sebagai langkah kita mencintai Allah dan percaya pada-Nya.

Hadis di atas berkenaan dengan penciptaan Allah dan Qadar. Statament "Apa yang telah tertulis akan menyusul (overtake) nya" harus dipahami dengan sudut pandang positif dan tidak negatif. Allah, dengan Kemahatahuan-Nya, mengetahui apa yang akan terjadi, sebagaimana disebutkan (explained) dalam hadis sebelumnya.

Al-Qadar bisa dibagi menjadi :

1. Al-Qadar al-Kulli : Qadar secara keseluruhan yang sudah ditetapkan oleh Allah di Lauh al-Mahfuz

2. Al-Qadar al-Sanawi : Qadar tahunan yang dilaksanakan setahun sekali oleh Allah - Di mana hal tersebut merupakan hal yang sudah dicatat di Lauh al-Mahfuz

Apa yang ditulis di Lauh al-Mahfuz itu hanya diketahui oleh Allah Swt semata. Tidak diungkapkan (revealed) kepada kita - kita tidak tahu tentang takdir kita, bagaimana rizki kita, di mana kita akan mati, dan lain lain. Bagi kita hal tersebut tidak diketahui dan bersifat ghaib. Pengertian hadis ini menggunakan kata 'menyusul' (overtake), mungkin tidak akan menghasilkan pemhaman yang benar jika redaksinya adalah bahwa apa yang telah tertulis oleh Malaikat akan 'memaksa' kehidupan seseorang.

Kita secara sederhana tengah diajarkan tentang ilmu Allah dan Kemahatahuan-Nya. Apa yang telah tertulis bukan disebabkan karena apa yang kita lakukan. Ini bukan disebabkan sebab akibat atau pengaruh situasi kita, sebagaimana dipercaya sebagian muslim. Banyak muslim percaya bahwa segalanya sudah tertulis, karenya segala yang kita lakukakan itu tersebabkan dari apa yang tertulis. Yang benar adalah, kendati takdir sudah tertulis dan kita melakoni amal seharian kita (yang ternyata sesuai dengan suratan takdir tsb), hal tersebut bukan karena disebabkan apa yang sudah tertulis.

Ini, sejatinya, adalah kerja asosiasi (keterkaitan) atau kesesuaian. Apa yang kita lakukan, sejatinya, sesuai dengan apa yang disaksikan olmu Allah, karena Allah memiliki pengetahuan yang Maha. Dalam kata lain, apa yang kita lakukan itu sesuai dengan apa yang tertulis. Ini menunjukkan kemuliaan Allah Swt dan kebenaran ilmu-Nya. Maka kita harus memahami bahwa semua itu terjadi karena takdir telah 'memaksa' (imposed) kita. Sebaliknya, hal ini membatalkan semua konsep iman, konsep penciptaan dan semua yang berkaitan dengannya (related) (dari segala konsep-konsep yang keliru).

###

Kita bertanggung jawab atas apa yang kita pilih dan apa yang kita lakukan. Merujuk kepada bagian terakhir dari hadis di atas, dimana takdir seseorang bisa berubah pada akhir hayatnya tidak sebagaimana yang diharapkan, dari sana banyak kita ungkapkan beberapa contoh dari sejarah di mana seseorang yang masuk Islam pada menit terakhir hidupnya bahkan membela Islam mati-matian dalam pertempuran dan mati karenanya.

Banyak pula terdapat contoh pada hari ini di mana orang tidak melaksanakan kewajiban muslim dengan baik atau mereka melakukan dosa, Di mana mereka saat itu sudah udah mencapai tahap terakhir dari hidupnya yakni pada umur 50 atau 60, kemudian mereka bertaubat dan menjadi muslim yang baik. Kejadian serupa berlangsung dalam ribuan kasus setiap tahunnya. Orang-orang ini, jika dikehendaki oleh Allah, akan dimaafkan dan dimasukkan ke dalam surga. 

Dalam skenario yang lain, ada orang-orang yang melaksanakan ibadah yang terbaik dan ketika tiba pada akhir hidupnya melakukan dosa sehingga ia layak (deserve) untuk masuk ke dalam neraka (sebagaimana disebutkan dalam hadits), situasi ini ini mempengaruhi hanya sebagian kalangan terbatas aja, berbeda jika dibandingkan dengan yang pertama. Hal ini terjadi karena kepribadian mereka sendiri, seperti yang terjadi pada kasus kemunafikan.

###

Untuk memahami dengan benar konsep Qadar, kita butuh mengetahui lebih banyak tentang penciptaan manusia. Apa yang disebutkan dalam hadits sejatinya adalah sebuah keajaiban. Hal tersebut menjelaskan tentang tahapan penciptaan janin dalam diri manusia pada rentang waktu 14 abad sebelum sains dan teknologi mengkonfirmasi hal tersebut. (Penjelasan mengenai tahapan pembentukan janin ini juga bisa ditemukan di al-quran tapi tanpa menyebutkan periode masing-masing tahap). Dalam bahasa lain, scientist hanya bisa mengobservasi fenomena ini pada beberapa dekade terakhir di mana hal tersebut sudah disebutkan dalam Alquran berabad-abad lalu.

Dalam sebuah seminar mengenai penciptaan yang diselenggarakan di Eropa beberapa tahun lalu dan saat itu beberapa apa sarjana muslim diundang untuk hadir. Ketika para sarjana ini memberikan perspektif Islam mengenai tahapan pembentukan janin mereka menyampaikan apa yang disebutkan dalam Alquran dan hadis, beberapa dari yang hadir ketika itu memeluk Islam, mereka meyakini apa yang menjadi Wahyu ilahi tersebut

###

Kita juga perlu untuk mengetahui komponen yang terkandung dalam diri manusia, sehingga hal tersebut mampu membantu kita memahami qadar dengan sisi yang positif. Manusia, sejatinya, terdiri dari beberapa komponen di bawah ini :

1.       Akal – hal ini memperkenankan kita untuk memastikan kapasitas kita, membedakan antara yang baik dan buruk. Akal adalah bagian dari diri kita, bagian yang merupakan ciptaan Allah. Berdasarkan hal ini, seseorang dianggap sebagai mukallaf, bertanggungjawab untuk menerima dan memahami pesan yang disampaikan oleh utusan Allah, hal ini jika kita waras. Jika seseorang mengalami gangguan mental atau gila (insane), maka ia tidak dianggap sebagai mukallaf.

2.       Fitrah – Kita diciptakan oleh Allah dengan fitrah (natural disposition/innate), yang dengan hal tersebut kita mampu mencintai hal yang bagus dan benar serta membenci sesuatu yang jahat dan salah. Ia terdiri dari rasa cinta dan benci. Kendati kita dilahirkan dengan pemberian fitrah, hal ini berubah seiring dengan berubahnya situasi lingkungan kita, orangtua kita, pendidikan kita dan lain sebagainya. Karena itu, ada beberapa orang yang mungkin mencintai hal-hal buruk, hal tersebut karena rasa fitrah mereka telah terenggut (spoiled and corrupcted). Beberapa sarjana mengatakan bahwa fitrah (perasaan mencintai kebaikan dan membenci keburukan) tetap ada di dalam diri mereka, apabila kita berupaya untuk membangkitkan fitrah tersebut, orang tersebut akan kembali mencintai hal-hal baik serta membenci hal-hal buruk

3.       Komitmen yang kita buat pada waktu sebelum kita dilahirkan, yakni agar kita senantiasa beribadah kepada Allah Swt. Hal ini sejalan dengan kehendak fitrah, hal ini menyebabkan kita memiliki intuiisi natural untuk mencintai hal-hal baik serta membenci hal-hal buruk

4.       Kehendak dan kekuatan: Allah menganugerahkan kepada kita dengan kehendak dan kekuatan. Sebuah perilaku tidak akan bisa terwujud jika tanpa dibarengi dengan kehendak dan kekuatan-Kita melakukan sesuatu hanya jika kita berkehendak dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan hal tersebut. Akan tetapi kehendak dan kekuatan ini bersifat netral dan bisa dimanpulasi dan digunakan baik untuk kebaikan atau hal keburukan.

5.       Kita juga diciptakan oleh Allah lengkap dengan syahwat dan eksistensi syahwat yang ada di dalam diri kita tersebut mampu memanipulasi kehendak dan kemampuan kita untuk melakukan kebaikan atau keburukan.

Syahwat adalah bagian dari diri kita yang dikenal sebagai bagaian dalam diri kita yang bergejolak (internal challenges) – Sesuatu yang bisa mempengaruhi kehendak dan kemampuan kita. Bagian dalam diri kita (internal challenges) terdiri dari beberapa hal :

1.       Syahwat (Self Desires)

2.       Jiwa (Nafs), yang mana ia terdiri dari 3 aspek :

-          Bagian jiwa yang mendorong kita untuk melakukan keburukan

-          Bagian jiwa yang mengingkari untuk melakukan atau berpikir tentang keburukan (jika kita memiliki iman dan pengetahuan), semisal jiwa kita yang berbisik, ‘Apakah kamu tidak malu jika kepikiran untuk minum alkohol?’

-          Bagian jiwa yang tenang (Naf sal-Muthmainnah)

Kita bisa mengalami (dealing) ketiga bagian di atas dalam waktu yang sangat singkat, bahkan dalam durasi kurang dari sejam. Dengan gambaran : 1) kita mulai untuk melakukan hal yang buruk, yang mana hal ini disebabkan nafsu al-ammarah bis su’, hal ini merupakan bagian pertama dari jjiwa kita, namun hal tersebut memang menjadi takdir kita, 2) kita mulai menyalahkan/mengingkari diri untuk mencegah diri kita melakukan hal-hal buruk, agar ia memimpin kita, 3) yakni ketenangan yang didapat dari bagian ketiga diri kita.

Ada beberapa hal lain yang bersifat eksternal yang mempengaruhi bagian dalam kita (which attract the internal challenges) :

1.       Melakukan perbuatan dosa – bagian pertama jiwa kita akan mengaktivasi nafsu untuk mendorong kita berpikir untuk melakukan hal-hal buruk

2.       Perasaan waswas pemberian setan. Setiap setan mampu melakukan hal ini. Mereka senantiasa berusaha meyakinkan kita untuk melakukan hal-hal buruk dengan cara mempromosikan hal jahat agar terlihat baik dan bisa kita terima, atau dia meyakinkan kita untuk menunda melakukan hal baik. Apabila kita seorang muslim yang baik, setan akan berupaya meyakinkan kita agar kita mennunda untuk bersedekah dan menampilkannya sebagai hal yang buruk, seperti misalnya sedekah hanya akan memberikan finansial buat kita. Sebagaimana kita lihat, kedua hal tersebut telah mempengaruhi persepsi kita.

 ###

Kita dapat menyaksikan bahwa komponen-komponen yang ada dalam diri manusia menolong diri kita menghadapi berbagai tantangan. Sebagai contoh fitrah dan akal adalah dua hal komponen yang kuat dalam diri kita yang mengarahkan kita untuk melaksanakan kebaikan. Bagaimanapun keduanya tetap terbatas oleh karena itu Allah mengirimkan kepada kita utusannya untuk mengarahkan kita. Hidayah Allah membimbing kita untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, pintu mana yang potensial didatangi oleh setan. Ketika kita membaca Alquran dan merenunginya kita akan mencapai (attain) kepada basiroh yang mana kita bisa mengaktifkan daya preventif dalam diri kita dan bisa membangkitkan nafsul Mutmainah.

Alquran mengabarkan kepada kita bahwa Apa yang akan kita lakukan itu akan diuji. Hal ini sebagaimana firman, dialah dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji seberapa baik amalan kalian. (Al-Mulk : 2)

Allah mengabarkan kepada kita bahwa kita akan diuji dan bahwa wa skenario yang disebutkan di atas itu bersifat natural. Ini adalah bukti belas kasih Allah - di mana dia melengkapi kita dengan kekuatan dengan kehendak dengan fitrah dengan akal dengan dikirimkannya utusan yang membawa hidayah dan lain sebagainya. Akan tetapi dia memperingatkan kepada kita bahwa kehendak kita akan diuji dengan hal internal dan eksternal. Kekuatan dan kehendak kita adalah bersifat netral tapi hal tersebut berpotensi untuk dipengaruhi baik itu kepada hal yang baik ataupun yang buruk. Apabila kita memiliki Basir apabila kita membaca Alquran an-naba bila kita dekat dengan Allah apabila kita mempunyai hikmah maka pikiran sehat dalam diri kita akan aktif dan syahwat dalam diri kita akan terkontrol dan kita tidak akan dirasakan olehnya. Setan tidak akan mendekat kepada kita karena dia tahu apabila mereka dekat kepada kita mereka tidak akan mampu mempengaruhi kita. Apabila kita menempuh jalan ini, hidup kita akan penuh dengan tantangan, inilah ah hujan yang sesungguhnya yang akan kita lalui. 

Kendati komponen-komponen ini melengkapi kepribadian kita, kita tetap utuh Taufik dari Allah subhanahu wa ta'ala. Tempat taufiknya kita bisa jadi tersesat oleh nafsu kita yang datang dari setan. Maka kita harus dekat kepada Allah. Kita butuh untuk berdoa kepada Allah setiap waktu, kita perlu membuat hati kita setia agar senantiasa beribadah kepadanya, dengan itu kita selalu (constantly) dianggap mencari pertolongannya mencari perlindungannya mencari hidayahnya. Itulah mengapa dalam sehari setidaknya kita 17 kali mengatakan tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, kita butuh Sida ya Allah sangat butuh. Kita bukan hanya butuh untuk didekatkan kepada jalannya tapi masuk ke dalam ajarannya.

Ada dua tipe Hidayah: hidayah masuk Islam dan hidayah untuk meningkatkan keislaman.

Beberapa sarjana mengatakan kita butuh hidayah agar senantiasa di jalannya pada setiap saat, kita membutuhkan hudayah Allah lebih dari kita membutuhkan bernafas.


###

Hal ini dinarasikan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadis di mana Allah menciptakan seorang manusia di atas sebuah pulau di mana di daerah tersebut hanya ada dia seorang. Allah memberikan kepada orang tersebut rizki dengan menyediakan buah-buahan dalam hidupnya. Dalam 70 tahun, ia hidup dan hanya beribadah kepada Allah semata, tanpa ada tantangan di dalamnya.

Ketika datang waktu ajalnya tiba, Allah memerintahkan kepada para malaikat agar membawa jiwanya kepada-Nya. Allah bertanya kepada orang tersebut, 'Wahai hamba-Ku, surga atau neraka?' Seorang tersebut menjawab, 'Surga, Ya Allah, tentunya.' Allah bertanya lagi kepadanya, 'Wahai Hamba-Ku, hal ini dikarenakan belas kasih sayangku atau karena amalan yang engkau perbuat?' Orang tersebut menjawab, 'Ya Allah, tentu ini karena amal ibadahku. Selamat 70 tahun saya beribadah hanya kepada Engkau, saya tdak melakukan hal buruk dan hanya beribadah kepada-Mu'

Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat-Nya agar mengambil anugerah yang diberikan kepada orang tersebut berupa anugerah penglihatan, dan ditaruh di satu timbangan. Kemudian ia memerintahkan kepada malaikat lainnya agar menaruk nilai ibadah hamba tersebut selama 70 tahun di neraca yang lain. Hasilnya adalah, anugerah penglihatan yang ditimbang memiliki beban yang lebih berat (heavier) ketimbang amal ibadah 70 tahun. 

Ringkasan dari pembahasan di atas adalah, bahwa apabila kita beribadah kepada Allah selama 70 tahun dan mencegah diri (refrain) dari melakukan keburukan, kita tetap tidak akan mampu mengganti nikmat yang Allah berikan kepada kita. Beberapa sarjana mengatakan bahwa apabila kamu ingin mengetahui besarnya nikmat Allah kepadamu, tutuplah matamu. Apabila kita telah menutup kita, maka bayangkanlah kita tidak akan lama memiliki penglihatan dan kita akan senantiasa mencoba mengggambar kehidupan kita, hanya dengan itu kita bisa mengapresiasi secara jujur dan benar atas kasih sayang Allah.

Conclusion 

The hadiths are the sources of our iman (faith), knowledge, and guidance as we are taught by the Prophet, sallallahu 'alayhi wasallam. Studying and understanding the Hadiths will activate our insight (basirah), enlighten our hearts, and uplift our souls. This will by the help of Allah, lead us and keep us on the right path to the end, insha Allah

Minggu, 08 Agustus 2021

Mengenal 5 Rukun Islam (Syarah Hadis Arbain Nomor 03)


Hadis 3

Diriwayatkan dari Abu Abd al-Rahman Abdullah bin Umar bin al-Khattab radiyallahu anhuma, bahwasanya beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Islam dibangun di atas lima perkara ; bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Makkah dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Latar Belakang

Hadis ini merupakan bagian dari hadis sebelumnya (hadis ke-2). Hampir semua sarjana mengatakan mengapa Imam an-Nawawi memasukkan hadis ini ke dalam koleksi Arbain-nya, meskipun ia terkesan mengulang isi hadis kedua, hal ini tidak lain karena pentingnya 5 rukun islam tersebut

Hadis ini menekankan (stresses) aspek dasar pembuktian (outward) kepatuhan (submission) kepada Allah. Kepatuhan ini dibangun di atas lima rukun, sebagaimana struktur. Jika seseorang memenuhi (fulfil) rukun ini, ia telah membangun (laid) fondasi yang kuat untuk agama ini sebagai rumahnya.

Aspek-aspek lain dalam Islam, yang tidak disebutkan dalam hadis ini, bisa dilengkapi guna melengkapi sturktur bangunan Islam.

Jika seseorang gagal untuk memenuhi kewajiban beragamanya (diibaratkan dengan membangun tiang-tiang), maka seluruh struktur agama ini akan terancam (threatened). Ini semua tergantung (depends) bagaimana ia membuat sebuah kesalahan (violated), kerusakan (dosa) paling parah adalah saat ia merusak bagian syahadat.

Pelajaran

Penggunaan Metafora dan Perumpamaan

Hadis ini menggunakan metafora (laksanan membangun struktur bangunan) untuk menegaskan (affirm) kepastian (certain) akan makna-makna yang penting.Penggunaan metafora dan perumapaamn ini bisa ditemukan di banyak tempat di surat-surat dalam al-Qur’an dan banyak hadis. Contohnya adalah ;

-          Dalam surat at-Taubah ayat 109, di mana di sana digunakan perumpamaan serupa. Struktur yang dibangun oleh amalan orang beriman dibangun di atas pondasi yang kuar, sedangkan keberagamaan munafik dibangun di atas pondasi yang lemah yang bisa saja menyebabkan struktur yang runtuh (collapse), memisalkan bahwa munafik akan memasuki neraka.

-          Surat An-nur ayat 35, dipakai di sana penggunaan perumpamaan cahaya di mana cahaya tersebut merupakan perumpamaan dari hidayah yang ada di hati seorang beriman

-          Perumpamaan juga dipakai untuk memvonis mereka yang gagal memenuhi Amanah (kewajiban agama) bisa ditemukan di surah al-Jumuah ayat 5. Bani Israil yang tidak mematuhi kewajiban Allah dalam Taurat, digambarkan seperti keledai yang membawa (burdened) buku berat di punggung akan tetapi mereka tidak mampu membacanya dan memahaminya. Beberapa sarjana mengatakan bahwa perumpamaan tersebut juga disematkan bagi yang lalai untuk menjalankan amanahnya

-          Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw membagi umatnya menjadi 3 kategori. Ada yang menerima risalah secara sempurna, ada yang Sebagian dan ada yang tidak sama sekali. Nabi Muhammad Muhammad menggunakan perumpamaan hujan yang jatuh ke bumi, struktur tanah yang berbeda-beda (dengan kadar peresepan yang berbeda-beda) menghasilkan hal yang berbeda pula

-          Penggunaan perumpamaan dalam menyampaikan risalah kenabian merupakan alat terpenting dan ini merupakan metode yang dipakai dalam al-Qur’an dan hadis. Banyak sekali mode penyampaian yang dipakai oleh al-Qur’an dan hadis yang digunakkan dengan tujuan yang beragam pula. Berkaitan dengan miskonsepsi dan kesalahan asumsi para kuffar, Qur’an dan Hadis memakai pola pikir rasional. Ketika menggambarkan surga dan neraka, mereka memakai al-Qur’an dan hadis dalam mode ekspreional, quran hadis menggambarkan sangat detail dan menampakkan surga dan nerakan seakan berada di depan kita

-          Salah seorang sahabat mengatakan bahwa dirinya telah melihat surga dan neraka. Para sahabat lain bertanya, ‘bagaimana bisa dia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat sampai hari kiamat nanti. Dia menjawab, ‘Saya melihat surga dan neraka melalui mata (pandangan) Nabi Muhammad. Jika saya diberikan kesempatan (chance) untuk melihat keduanya, saya juga tidak akan percaya pandangan saya. Saya hanya percaya kepada pandangan Nabi Muhammad, bahkan melebih pandangan saya sendiri.. Dari sana kita berkesimpulan bahwa jika membaca dan memahami al-Qur’an dan hadis maka kita juga mendapatkan visualisasi surga dan neraka.

-          Mode penyampaian yang dipakai oleh al-Qur;an ini harus dipahami dan dipakai oleh muslim dalam menyampaikan risalah islam saat sedang berdakwah merupakan langkah yang sangat efektif. Perbedaan gaya berdakwah harus dipakai untuk mengajar orang yang berbeda juga, terkadang orang emosional terkadang orang rasional.

Rukun Pertama : Syahadat

Bagian pertama syahadat adalah persaksian (testifying) bahwa tidak ada yang layak (worthy) untuk disembah melainkan Allah. 

Berikut ada tujuh hal yang menjadi komponen syahadat : 

1. Pengetahuan (knowledge) - Untuk memahami apa yang dimaksudkan (dari syahadat)

2. Keyakinan (certainty) - untuk menerima tanpa keraguan (doubt) segala hal yang terkandung (confirmed) dalam Alquran dan hadis
 
3. Penerimaan  (acceptance) - baik melalui lisan atau hati tentang segala implikasi dari makna Syahadat

4. Kepatuhan (submission/compliance) - dalam bentuk pengaktualisasian melalui amalan jasmaniyah

5. Truthfulness (kejujuran) - untuk mengatakan syahadat secara tulus, dengan kejujuran, untuk menerapkan makna syahadat tersebut

6. Ketulusan (sincerity) - yakni melaksanakan semuanya semata2 (solely) karena Allah SWT

7. Cinta (love) - untuk mencintai syahadat dan untuk mencintai segala turunan dan syarat-syaratnya serta siap memperjuangkannya

Syahadat tidak sesederhana yang kita ucapkan dengan mulut kita. Kita dituntut mengikuti (adhere) seluruh instrumen yang terkandung di dalamnya. Jika kita mengamalkan syahadat dengan ketulusan dan kejujuran, kita tidak akan melakukan sesuatu yang kontradiksi atau melanggar makna syahadat itu sendiri.

Bagian kedua syahadat mengharuskan kita : 

- Untuk percaya kepada Nabi Muhammad Saw dan segala hal yang disampaikannya (told and conveyed) kepada kita

- Untuk mematuhinya dalam segala hal yang diperintahkannya

- Untuk menjauhi (avoid) segala hal yang dilarangnya

- Untuk mencontohnya dalam ibadah kita, akhlak kita dan jalan hidup kita

- Untuk mencintainya melebihi diri kita sendiri, keluarga kita dan semua hal di dunia

- Untuk memahami, mempraktikkan dan menyebarkan ajarannya Dengan jalan terbaik, tanpa kekacauan, permusuhan (enemity) dan tanpa menyakiti yang lain (harm)

Rukun Kedua : Mendirikan Shalat

Sebagian orang menafsirkan hadis ini dengan iqamatus shalah yang bermakna melakukan salat. Iqamatus shalah memiliki makna yang lebih luas ketimbang melakukan salat. 

Iqamatus shalah memiliki implikasi : 

1. Seseorang harus melakukan wudhu dengan benar (proper way)

2. Seseorang harus melakukan salat pada waktunya

3. Seseorang  harus melakukan jamaah - yang mana pahalanya adalah 27 kali ketimbang salat sendiri

4. Seseorang harus memenuhi 6 ketentuan (rukun) dalam salat

5. Seseorang harus mengamati tata krama salat, seperti ketundukan dan kerendahhatian saat melaksanakan salat

6. Seseorang yang perlu melaksanakan amalan sunnah salat (preferable action in shalah)

Hal ini penting untuk ditunaikan syarat-syaratnya dan tidak melanggarnya, jika memang kita berkomitmen untuk menunaikan rukun Islam yang kedua tersebut. 

Kita harus ingat bahwa Allah pada mulanya memerintahkan kepada kita untuk salat lima 10 waktu meski akhirnya alah menguranginya menjadi lima waktu (dengan ganjaran 50 waktu) --- pembagian waktu salat yang cukup menyeluruh tersebar di sepanjang hari ini (very reasonably spread out throughout the day) --- mampu membantu kita untuk mengatur urusan2 kita. 

Anjuran bagi muslim untuk melaksanakan jamaah (congregation) dan seruan untuk peduli menolong sesama, mampu meningkatkan solidaritas. Maka salat tidak lagi dipandang sebagai beban, sebagaimana mungkin dipandang sebagian muslim pada hari ini

Rukun ketiga : Zakat

Membayar zakat diwajibkan oleh Rasulullah Saw benda2 tertentu, sesuai kadar2 tertentu dan dengan syarat2 tertentu. Segenap sarjana mengatakan itulah makna zakat yang diwajibkan ketika seseorang memiliki kemampuan atau sesuatu yang membuatnya wajib. Petani dan pedagang harus tahu syarat dan kadar kepemilikannya yang dengannya dia diwajibkan membayar zakat.

Rukun Keempat : Haji

Berhaji ke rumah Allah merupakan suatu kewajiban yang harus kita laksanakan 1 kali sepanjang hidup - yakni hanya ketika kita mampu memenuhi jalannya/panggilannya, seperti ketika kita mempunyai finansial yang cukup, kondisi perjalanan yang aman dan lain sebagainya. 

Apabila kita memenuhi kondisi kondisi tersebut kemudian kita wajib untuk menunaikan Haji tersebut semampunya dan jangan sampai menundanya. 

Beberapa sarjana mengatakan bahwa apabila kita sudah melaksanakan Haji beberapa kali, maka lebih baik bagi kita untuk menggunakan uang yang kita punya untuk menolong yang lain memenuhi kebutuhan mereka - kita bisa memberangkatkan haji orang atau menggunakan uang tersebut untuk perbaikan komunitas. 

Untuk setiap rukun agama itu memiliki syarat-syarat yang harus kita laksanakan, begitupun sunah-sunahnya, adab-adabnya dan lain sebagainya. Dan kita harus memperhatikan (observe) hal2 tersebut. 

Mengapa kita selalu mendengar bahwa setiap tahun ada ratusan orang muslim yang kehilangan nyawa atau tertimpa musibah ketika melaksanakan haji? Kebanyakan kecelakaan itu disebabkan karena kelalaian mereka dalam memperhatikan adab atau melanggar sunnah-sunnahnya. Sebagai contoh adalah dalam pelaksanaan pelemparan batu di jamarat.

- kendati kita diarahkan (supposed) untuk menggunakan batu kecil namun orang-orang tetap memakai batu yang besar dan melempar dengan cerobohnya dari jarak yang jauh hal tersebut akan melukai orang lain

- orang-orang tidak mengikuti arahan spesifik ketika mereka pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hal ini menyebabkan adanya kekacauan berupa gelombang manusia yang pindah berbarengan dengan gelombang yang lain, disebabkan instruksi yang berbeda (different direction)

- orang-orang memaksa untuk pergi melempar batu pada waktu puncak keramaian, pada kondisi yang paling sibuk dalam satu hari tersebut. Orang-orang tua, perempuan dan cacat padahal sudah diarahkan untuk melakukan pelemparan batu ketika tidak sedang terlalu ramai.

Maka hal ini penting bagi kita untuk memperhatikan etika etika pelemparan batu.

Rukun Kelima : Puasa Ramadhan

Ramadan adalah ah momentum bagi seluruh umat muslim untuk melakukan ibadah yang baik sehingga mampu menjadi muslim yang lebih baik. Bagaimanapun kita harus melanjutkan kebaikan kebaikan ini di luar bulan Ramadan, seperti salat di masjid, tahajud, qiyamul lail, membaca Alquran, menolong dan peduli kepada orang lain. 

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya kapan waktu terbaik untuk menamatkan bacaan Alquran, beliau menjawab baiknya di bulan ini yakni bulan Ramadan. Dengan membaca 1 juz per hari. Hal ini wajib kita praktikkan sepanjang waktu dan tidak hanya pada bulan Ramadan saja. Apabila kita tidak mampu mencapainya, minimal kita mencoba untuk membaca 1 atau 2 halaman per hari. 

Demikian pula kita harus mencoba melaksanakan tahajud, meskipun hanya dua rakaat dan tidak setiap hari, di luar bulan suci Ramadan.

Kita tidak mesti melakukan komitmen personal untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah yang mana syariah tidak mengajarkan hal tersebut. Hal ini mungkin mampu mengarahkan kita untuk membuat sebuah komitmen untuk mengamalkan hal-hal yang baik. Hal tersebut merupakan cara terbaik dan termudah untuk tujuan menciptakan amal ibadah yang berkelanjutan. 

Kesimpulan

Seluruh rukun agama Islam memiliki aturan-aturan syarat-syarat dan hukum serta etika yang kita wajib untuk memperhatikan hal tersebut. Wajib bagi kita untuk mengetahui hukum-hukum dan adab tersebut yang bisa memperingatkan kita semua khususnya sebelum Ramadhan dan sebelum melaksanakan ibadah haji, maka kita dengan hal tersebut mampu melaksanakan rukun-rukun Islam tersebut sesuai dengan ajaran Syariah.

Rabu, 04 Agustus 2021

Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Serta Adab Mencari Pengetahuan (Syarah Hadis Arbain Nomor 02)

 

Tulisan ini merupakan terjemahan Syarah hadis Arba'in An-Nawawi yang ditulis oleh Jamal Ahmed Badi. Buku tersebut terbit dengan judul Sharh Arba'een an Nawawi : Commentary Of Forty Hadiths Of an-Nawawi. Terjemahan ini merupakan upaya pemilik blog untuk melatih keterampilan menerjemah, tidak untuk dikomersilkan 

HADIS 2

Dari sahabat Umar radiyallahu anhu, ia berkata :

“Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah Saw, datang (appeared) seorang laki-laki mengenakan (dressed) pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tidak ada jejak (trace) bahwa ia sedang melakukan perjalanan, dan tidak ada dari kami yang mengenalnya.

Dia duduk (sat down) dekat (close) dengan Nabi Saw, meletakkan (rested) lututnya berhadapan dengan paha (thigh) Nabi dan berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Nabi menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu menunaikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah, jika kamu mampu melaksanakannya.’ Seorang tersebut berkata, ‘Kamu benar wahai Muhammad’

Kita semua terheran (astonished) dengan prilakunya yang bertanya tapi kemudian membenarkannya, tapi kemudian ia melanjutkan pertanyannya, ‘Wahai Muhammad, beritahu saya tentang Iman (faith)’, Nabi menjawab, ‘Yakni kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Takdir (fate), baik itu yang baik atau buruk. Dia menjawab, ‘Kamu benar wahai Muhammad’

Kemudian ia berkata lagi, ‘Beritahu saya tentang Ihsan’, Nabi Muhammad menjawab, ‘Yakni kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, seandainya kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Dia berkata lagi, ‘Beritahu saya tentang kiamat’, Rasulullah Saw menjawab, ‘Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya’, ia bertanya lagi, ‘Baik, coba beritahu tanda-tanda kiamat’ Rasulullah Saw menjawab, ‘Yakni seorang pembantu (slave) melahirkan majikannya (mistress), engkau juga akan mendapati seorang bertelanjang kaki (barefoot), telanjang, miskin (destitute) dan berstatus penggembala domba di mana di antara mereka berlomba memegahkan (lofty) bangunan. Kemudian orang tersebut beranjak pergi.

Saya terdiam sejenak, dan Rasulullah Saw berkata, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa tadi yang bertanya?’ Saya menjawab, “Allah dan Rasulullah Saw lebih paham’, Rasulullah Saw menjawab, “Itu tadi adalah Jibril. Dia datang untuk mengajari kalian tentang agama kalian.” (HR. Muslim)

###

Latarbelakang

Imam Muslim berkata, “Menjelang akhr hayatnya, Abdullah bin Umar (putra Umar bin al-Khattab) diberitahu oleh dua orang bahwa telah lahir sekte baru di Irak. Mereka dinamai Qadariyah dan mereka menolak (denied) adanya takdir. Maka Abdullah bin Umar membacakan hadis ini yang menegaskan bahwa Qadar merupakan salah satu pilar iman untuk menyangkal (refute) kesalahpahaman ajaran sekte tersebut.

###

Pelajaran

Hadis ini mengajar beberapa etika dalam mencari ilmu :

1.       Kita harus dalam keadaan bersih dan mengenakan pakaian bersih

2.       Kita harus duduk dengan sopan (properly) dan dekat (closer) dengan pembicara/guru

3.       Menanyakan sebuah pertanyaan untuk pemahaman yang lebih baik

4.       Mencari ilmu dari sumber yang otoritatif

 

Salah Satu metode mencari ilmu pengetahuan adalah dengan bertanya pertanyaan :

1.       Pertanyaan yang diajukan haruslah bermakna dan berbobot – pertanyaan harus bernilai (valuable) intelektual dan bagus

2.       Pertanyaan bagus yang dilancarkan untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus bernilai sebuah pengajaran. Yaitu mereka yang Ketika bertanya, ia sembari belajar dari jawaban orang lain, maka sebenarnya ia juga sedang mengajarkan yang lain

3.       Ketika Ibn Abbas, salah seorang sahabat terbaik, ditanya bagaimana ia bisa mendapatkan ilmu yang dimilikinya, ia menjawab, “Ini karena lidah yang selalu ingin tahu (beliau kerap menanyakan ilmu kepada siapapun, termasuk Rasulullah) dan perenungan hati yang dalam”

4.       Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw sering mengawalinya dengan pertanyaan sebelum beliau menyebarkan ilmunya. Menanyakan pertanyaan (dalam kaitannya dengan proses pengajaran) menuntut persiapan otak/hati untuk menerima ilmu pengetahuan- pertanda agar bersiap untuk menyerap dan menerima pelajaran. Dalam hadis ini, Jibril yang bertindak sebagai penanya, menampakkan apresiasi yang bagus dan dorongan yang kuat untk bertanya, hal ini khususnya karena ia semangat menerima pengetahuan yang banyak

5.       Dalam al-Qur’an sendiri terdapat 1.200 pertanyaan, dalam tema yang beragam, yang berguna untuk memancing (provoke) otak pembaca dan memaksa mereka untuk menghadirkan (indulge) pikiran dan kesadarannya saat membaca al-Qur’an

###

Segenap sarjana berpandangan bahwa qadar bisa disikapi menjadi dua tingkatan :

1.       Kita memercayai bahwa Allah, dengan sifat ke-MahaTahu-an-Nya, mengetahui semua ciptaan-Nya dan apa yang terjadi pada semuanya bahkan sebelum semuanya diciptakan. Allah mencatat secara rinci ini semua dalam Al-Lauh al-Mahfuzh- tempat penyimpanan memori (preserved tablet)

2.       Kita memercayai bahwa semua yang terjadi di semesta ini telah Allah tetapkan, entah itu takdir baik atau buruk

Dalam menciptakan takdir semesta ini, Allah mempertimbang kesediaan (willingness) kemampuan (ability) kita dalam menunaikan takdir kita. Jadi kita hanya diperintah untuk melaksanakan yang kita mampu saja. Bagaimanapun, kita bertanggungjawab (responsible) atas semua pilihan yang kita ambil

###

Miskonsepsi Terkait Qadar

Banyak muslim percaya bahwa apa yang tengah berjalan dalam kehidupan mereka adalah disebabkan oleh takdir yang sudah ditulis di Al-Lauh al-Mahfudz – mereka mencampuradukkan antara hubungan sebab akibat dengan asosisi pilihan. Yang benar adalah bahwa apa yang kita lakukan itu berkaitan dengan asosiasi pilihan yang kita buat (assocation), bukan karena hal tersebut disebabkan oleh apa yang telah tertulis di Lauh al-Mahfuz (causation). Apa yang kita lakukan di dunia ini bukan karena kita ‘dipaksa-digerakkan’ atas apa yang tertulis di Lauh al-Mahfuz. Allah, dengan sifat Ke-Mahatahuan-Nya memang sudah mengetahui apa yang kita lakukan di dunia ini.

Dia bisa saja dengan mudahnya bisa mengarahkan orang-orang baik ke surga dan orang-orang jahat ke neraka. Akan tetapi Allah itu adil (Just), Dia menciptakan kita manusia untuk menguji jalan mana yang akan kita tempuh. Bahwa ternyata apa yang kita lakukan itu sejalan dengan yang tertulis di Lauh al-Mahfuz, itu bukan karena disebabkan karena memang telah tertulis demikian – Apa yang kita lakukan ini adalah berdasarkan kesediaan dan kemampuan kita dan kita akan bertanggungjawab atas pilihan yang kita ambil

Jika melihat kepada fenomena pemberian hidayah (guidance) dan penyesatan (misguidance), hidayah merupakan rahmat (gift) dari Allah. Ini (hidayah) adalah yang Allah takdirkan untuk kita sehingga kita mampu membedakan (distinguish) yang mana kebenaran dan mana yang kebatilan untuk keyakinan kita. Allah-lah yang melengkapi kita dengan fitrah – kemampuan asasi menyukai hal yang baik dan membenci hal yang buruk, dan Allah-lah yang mengirimkan kepada kitab Rasul untuk membimbing kita, yang membawa kita kepada pencapain konsepsi (hidayah islam). Maka, diberikannya kepada kita hidayah, ini merupakan karunia (bounty) dari Allah Swt.

Akan tetapi jika yang datang adalah kesesatan, maka itu datangnya karena kita sendiri. Jika kita melakukan hal buruk, itu datang dari kehendak dan kemampuan kita melakukan hal tersebut.

Mereka yang berpaling dari hidayah, itu karena mereka menginginkan hal tersebut, mereka tidak memilih mau untuk dibimbing (guded). Mereka sesat (misguidance) karena mereka arogan dan menolak (refuse) untuk mendengarkan

Firman Allah : Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Shaff : 5)

Namun (nevertheless), mereka yang tidak mendapati pengiriman Rasul Islam atau tidak menerima risalah (has not reached them), maka dihukumi tidak sempurna menerima risalah kenabian. Mereka disebut juga sebagai Ahlul Fatrah, mereka akan dihakimi namun tidak dihukum, sekalipun mereka melakukan kesalahan (misguidance).

###

Ini adalah beberapa hal yang bisa kita sikapi terkait ketetapan Qadar. Misalnya :

1.       Sakit yang kita alami adalah qadar/takdir. Akan tetapi kita, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi, diharuskan mencari obat untuk menyembuhkan penyakit. Mencari obat untuk penyembuhan juga merupakan qadar. Maka, satu qadar bisa diatasi (dealt) dengan melaksanakan qadar yang lain

2.       Jika hal apes terjadi pada kita, seperti kehilangan pekerjaan, kita jangan hanya mengatakan itu qadar saja tanpa bertindak apa-apa. Kita harus mencari pekerjaan yang lain, konsekuensi untuk mencari qadar yang lain.

Dikisahkan, bahwa suatu hari Umar bin al-Khattab tengah berjalan bersama segerombolan sahabat saat ia menjadi khalifah. Mereka tiba di suatu kota di mana kota tersebut dijangkiti wabah kolera. Umar bertanya kepada kawanan tersebut, apakah mereka lanjut jalan menuju kota tersebut atau kembali ke Madinah. Mayoritas para sahabat mengatakan bahwa mereka menginginkan kembali ke Madinah, akan tetapi sebagian mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan.

Kemudian, salah seorang sahabat Nabi mengucapkan sebuah hadis, “Jika kamu mendengar bahwa ada suatu negara yang tengah diserang wabah, jangan kamu bepergian ke sana.” Kemudian Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah. Dan seorang sahabat (yang kemungkinan dari kelompok yang memilih melanjutkan perjalanan) bertanya kepada Umar ‘apakah (dengan inisiatifnya ia kembali ke Madinah tersebut) merupakan bentuk pelarian dari Qadar?’ Umar menjawab bahwa ia hanya pindah dari satu qadar (takdir) ke qadar yang lain.

Maka, setiap engkau mengalami sebuah masalah, tantangan atau kesulitan yang memungkinkan untuk kita hilangkan, maka atasi dan tuntaskan atau minimalisir, ini yang mesti kita lakukan. Beberapa sarjana seperti Imam al-Jilani menggunakan kata ‘mengatasi takdir (qadar)’ dalam menanggapi permasalahan ini.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Cintailah segala hal yang bermanfaat buatmu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah ceroboh.” Hadis ini menyiratkan (implies) bahwa kita harus melakukan sebuah upaya. Konsep yang benar dalam menyikpadi qadar : bertanggungjawab atas semua yang kita lakukan

Sebagai misal : apabila kita berkendara secara ceroboh dan menyebbakan sebuah kecelekaan di mana salah seorang kehilangan nyawa atau menderita, kita tidak bisa secara sederhana mengatakan bahwa itu qadar, dengan menyalahgunakan konsep qadar untuk menjustfikasi kesalahan kita. Kecelakaan tersebut memang merupakan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Akan tetapi kita bertanggungjawab atas kematian seseorang tersebut akibat kelakuan yang kita perbuah (our willingness and ability). Itulah mengapa pengadilan akan memvonis kita bersalah (guilty))). Jika qadar bisa kita salahgunakan, maka setiap criminal yang terjadi tidak akan dihukum – karena perampok (thief) akan mengklaim bahwa pencurian (stealing) yang dilakukan tersebut didasari oleh takdir (qadar)!

###

Mereka yang kerap menyalahkan takdir adalah orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka memperalat kata takdir hanya untuk menjustifikasi kegagalannya. Pengertian yang benar mengenai qadar adalah sebagai berikut : jika seseorang sudah mengerahkan (exerts) energi terbaiknya untuk memenuhi (fulfil) kewajiban (obligation) akan tetapi mendapati kejadian yang tidak dapat dihindari (unavoidable circumstance), hal tersebut di luar kontrolnya, dia tidak mampu menunaikan kewajiban tersebut- makai ia dimungkinkan untuk diampuni (excused).  Sebagai contoh, seorang siswa yang telah belajar sungguh-sungguh untuk ujian akan tetapi saat tiba waktu ujian dia sakit dan lemah atau tidak mampu menghadiri ujian, hal tersebut layak untuk disebut dengan qadar/takdir dan hal tersebut adalah kehendak Allah Swt

Jika dikaitkan dengan kewajiban beragama, hal tersebut berlaku sama. Kita tidak bisa menyalah (blame) qadar untuk perbuatan dosa yang kita lakukan atau saat kita tidak menunaikan kewajiban muslim. Kita harus menyadari bahwa hal tersebut adalah tanggungjawab kita. Kita mungkin saat itu tengah berada pada status iman yang lema, yakni saat melakukan dosa atau meninggalkan kewajiban. Islam adalah agama yang memberikan kita ruang untuk bertobat dan menginstropeksi diri Kembali menuju jalan yang baik.

###

Pada hadis di atas, Rasulullah Saw mendefinisikan Islam sebagai lima pilar yang merupakan Gerakan lahiriah, iman sebagai asosiasi keyakinan-membahas wilayah hati, dan al-Ihsan sebagai level tertinggi yang bisa dicapai.

Akan tetapi, dua definisi pertama (iman dan islam) mampu untuk dipertukarkan antara satu dan lainnya – kadang-kadang Islam dipakai untuk menggambarkan hal batiniah sedankan iman bermakna amalan lahiriah. Ada beberapa hadis nabi Muhammad Saw yang menyebutkan bahwa ada lebih dari 70 cabang iman (yang di antara cabang tersebut ada amalan yang bersifat lahiriah, penj)

Jika kata Islam dipakai untuk internal kita, maka yang dimaksud adalah kesemuanya-Al-Islam, Al-Iman dan al-Ihsan. Serupa, Ketika kata iman dipakai, itu artinya mencakup keislaman, keimanan dan keihsanan. Nabi Muhammad Saw menyebutkan akhir hadis tersebut dengan ungkapan bahwa agama kita (islam) terdiri dari tiga hal tersebut (iman, islam dan ihsan)

###

Jika iman kita lemah itu memangaruhi keislaman kita. Sebagaimana dikatakan Abu Hanifa : Meksipun Iman dan Islam berbeda, tapi iman memburuhkan aplikasi (islam)

Beberapa sarjana mengatakan bahwa muslim lebih unggul disbanding kafir, mu’min lebih unggul disbanding muslim dan muhsin lebih unggul ketimbang mukmin

###

Ihsan (level tertinggi dari keimanan di mana seseorang beribadah seakan melihat-Nya dan apabila tidak melihat-Nya maka Dia melihat kita) ini adalah adalah terkait dengan ketakutan pemuliaan kita kepada-Nya. Hal in akan membimbing kita untuk melakukan ibadah terbaik-kita berharap bisa tulus dalam beribadah. Jadi, al-Ihsan juga soal reaksi terbaik dari hati. Sikap yang dilahirkan dari Ihsan : mencintai Allah, takut kepada Allah, meminta pertolongan kepada Allah, berharap kepada Allah karena ia telah memberikan kepada kita belas kasih sayang dan hidayah, kita memercayai akan kemuliaan Allah.

###

Ketika Jibril alayhissalam menanyakan Nabi Saw tentang hari kiamat (the day of judgment), Nabi Muhammad mengatakan bahwa Jibril lebih tahu tentang jawaban tersebut. Ini adalah contoh yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw, di mana seseorang dengan luasnya (vast) keilmuan beliau, beliau tidak menguasasi semua ilmu pengetahuan, dan beliau mengakuinya (admit)

Imma Malik suatu Ketika ditanya dengan 40 pertanyaan dan banyak dari pertanyaan tersebut dijawab, “saya tidak tahu-Allah lebih mengetahuinya”. Orang tersebut terkejut dengan reaksi Imam Malik yang tidak mampu menjawab pertanaan. Melihat reaksi tersebut, Imam Malik memberitahukankepada orang tersebut, alasan mengapa ia ditanyai dengan sjeumlah pertanyaan namun tidak mampu menjawabnya. Imam Malik tidak, lewat jawaban ketidaktahuannya tersebut, ingin agar ia tidak memberi jawaban yang salah. Maka, jika kita selaku pendidik atau sarjana, kita harus memiliki keberanian (courage) untuk mengetahui ketidaktahuan tersebut. Kita harus tidak menjawab pertanyaan jika khwatir kita akan memberikan informasi yang keliru.

###

Tanda-tanda akhirat disebutkan dalam hadis tersebut dengan tanda-tanda kecil, dengan satu yang besar. Kita percaya bahwa akan tanda-tanda ini, akan tetapi kita jangan terlalu dibuat pusing olehnya-kita jangan sampai terlalu kepikiran kira-kira kapan terjadinya (occur) tanda-tanda tersebut. Sejatinya, yang perlu kita waspadai adalah kematian yang buruk, dan kita harus senantiasa menghindari (steer away) dari hal tersebut.

###

Kesimpulan

Hadis ini membahas segala hal tentang Islam : lima pilar agama islam, keyakinan keimanan (termasuk di dalamnya iman kepada qadar), anjuran mencapai level iman tertinggi yakni ihsan, dan adab dalam mencari ilmu dan memberikan ilmu.

Tag : Hadis,Translate Training, Arbain Nawawi, Jamal Ahmad Badi

Selasa, 03 Agustus 2021

Pentingnya Niat Dalam Aktivitas Kita (Syarah Hadis Arbain Nomor 01)


Tulisan ini merupakan terjemahan Syarah hadis Arba'in An-Nawawi yang ditulis oleh Jamal Ahmed Badi. Buku tersebut terbit dengan judul Sharh Arba'een an Nawawi : Commentary Of Forty Hadiths Of an-Nawawi. Terjemahan ini merupakan upaya pemilik blog untuk melatih keterampilan menerjemah, tidak untuk dikomersilkan 

Hadis 1

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin, Abu Hafs Umar bin Al-Khattab, radiyallahu anhu, bahwasanya beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda “Segala amal perbuatan tergantung niyatnya. Dan setiap manusia akan mendapatkan sesuatu dari yang diniatkannya tersebut. Maka, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai sebagai hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah untuk dunia yang dicintainya atau kepada perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk keduanya. (Al-Bukhari & Muslim)

LatarBelakang

Hadis ini diucapkan oleh Nabi Saw saat ada seseorang yang berhijrah dari makkah ke Madinah demi perempuan yang dinikahinya dan bukan untuk Islam. Hadis ini dinilai sebagai hadis yang paling baik dalam Islam.

Imam as-Syafi’I berkata : hadis ini adalah sepertiga ajaran Islam. Ia mampu menghasilkan 70 pembahasan dalam kajian fiqih.

Imam Ahmad (dengan merujuk kepada pendapat Imam Syafi’i) berkata : Islam dibangun dari 3 hal dasar (kesemuanya berasal dari hadis yang terangkum dalam Arbain) :

1.       Hadis 1 : Yang sedang kita bahas ini

2.       Hadis 5 : hadis “Barangsiapa melakukan amal ibadah dalam Islam yang tidak ada dalam ajaran kami (ajaran quran dan hadis-penj) maka amal tersebut akan ditolak.

3.       Hadis 6 : Hadis “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya ada hal yang syubhat dan banyak orang terjerumus di dalamnya…”

Tiga hadis ini disepakati  oleh  Bukhari dan Muslim.

Hadis-hadis ini bisa dipahami sebagai 3 kriteria yang menjadi sarana evaluasi dan sebagai motivasi ibadah harian seorang muslim :

1.       Hadis 1 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bagian internal diri (manajemen hati)

2.       Hadis 5 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bagian eksternal diri (ekspresi badaniah)

3.       Hadis 6 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bidang muamalat (interaksi dengan lingkungan social)

 

Niat memiliki dua makna :

1.       Niat sebelum ibadah

2.       Kerelaan/Kesediaan

Pelajaran

Nabi Muhammad Saw, memulai hadis dengan redaksi “Segala sesuatu tergantung amalnya” dan memberikan 3 contoh. Ini merupakan metodologi yang dipakai oleh Nabi Muhammad Saw. Contoh-contoh yang ada dalam hadis membantu mengilustrasikan prinsip-prinsip yang mudah dipahami seorang muslim dan (dengan hal tersebut) mereka mampu mengaplikasikan prinsip terrsebut di situasi serupa.

Tiga contoh tersebut terdiri dari niat bagus (hijrah demi Allah dan Rasulullah Saw) dan dua niat buruk (hijrah karena dunia dank arena mengejar perempuan yang dinikahi).

 

Hadis di atas menekankan nilai ikhlas (ketulusan-beribadah kepada Allah semata, menjalankan perbuatan untuk Alah di manapun ia berada tanpa pengecualian). Ikhlas adalah salah satu penyebab diterimanya ibadah di sisi Allah. Di sisi yang lain, amal perbuatan kita harus sesuai dengan Syariah, hal ini sebagiamana dimaksud dalam hadis ke-5.

Dari syahadah kita bisa memahami beberapa hal :

1.       “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” ini adalah bentuk keikhlasan-memastikan bahwa kita melakukan segala sesuatu samata-mata karena Allah Swt

2.       “Saya bersaksik bahwa Muhammad adalah utusan Allah”-Sunnah adalah manifestasi al-Qur’an. Nabi Muhammad Saw, panutan kita, merupakan teladan terbaik yang harus kita ikuti. Mengikuti Sunnah Muhammad dalam ibadah kita, akhlaq dan muamalat merupakan sebuah upaya memastikan bahwa apa yang kita lakukan bersesuaian dengan syariat.

Jadi, syahadat menunjukkan kepada kita sebuah pelajaran bahwa jika amalan kita ingin diterima Allah Swt adalah harus : a) Dilakukan semata karena Allag karena Dialah satu-satunya yang patut disembah, 2) Dilakukan sesuai dengan syariah

###

Untuk menerapkan keikhlasan, kita harus menghindari (avoid) syirik (menyekutukan Allah, kasus ketidaktulusan beribadah). Imam Harawi berkata bahwa akar dari ketidaktulusan (Syirik) adalah hawa nafsu. Untuk itu, ibadah tidak akan maksimal dikarenakan hawa nafsu.

Imam al-Harawi mengatakan bahwa hawa nafsu ada 7 macam :

1.       Nafsu untuk menciptakan kekaguman terhadap diri sendiri dalam pandangan orang lain

2.       Nafsu untuk mencari sanjungan orang lain

3.       Nafsu untuk tidak menerima diirnya disalahkan

4.       Nafsu agar dipuji orang lain

5.       Nafsu untuk mencari kekayaan

6.       Nafsu mendapatkan perlayanan atau cinta dari orang lain

7.       Nafsu untuk menolong orang lain

###

Beberapa jalan untuk menjadi ikhlas :

1.       Bersikap Adil. Semakin kita bersikap baik (good deeds) dan mendekat kepada Allah Swt, semakin kita tulus dalam beribadah kepada Allah Swt

2.       Sebelum melakukan ibadah, pertama kita harus mencari ilmu atas apa yang akan kita kerjakan, yang mana amal ibadah kita akan dibimbing oleh ilmu tersebut, maka dengan itu mereka bisa beribadah sesuai dengan Syariah

3.       Jangan menampilkan kesaksian palsu-Jangan menjadikan orang lain percaya bahwa apa yang kita lakukan itu baik, padahal tidak

4.       Imam Ahmad berkata : Sebelum kamu melakukan sesuatu, periksa niatmu. Tanyakan dalam dirimu sebelum melakukan sesuatu, “Apakah saya melakukan ini karena Allah?”

 

###

Ibn al-Qayyim berkata : Apapun yang kita lakukan pasti akan terdampak tiga hal berbahaya (defect) berikut :

1.       Sadar bahwa segala perbuatan kita disaksikan oleh orang lain

2.       Mengharap balasan atas segala kebaikan yang kita lakukan

3.       Merasa puas atas amal ibadah yang kita lakukan

 

Contoh :

1.       Apabila kita menuju masjid untuk shalat pada awal waktu, datang sebelum imam dan mencari shaf pertama, kita tidak usah bangga atas diri kita seraya berpikir bahwa diri kita lebih baik ketimbang yang lain. Kita harusnya bersyukur kepada Allah atas perkenannya mengizinkan kita shalat dan mampu melakukan shalat tanpa kesulitan

2.       Setiap selesai shalat lazimnya kita menginstropeksi diri kita bahwa apa yang kita lakukan sudah baik dan berharap besok bisa mendapatkan shalat yang lebih baik lagi

###

Apa yang terjadi saat kita mengubah niyat saat berlangsungnya ibadah? Ibnu Rajab mengatakan, menurut pendapat ulama, apabila kita telah melakukan niat yang baik saat awal (melakukan ibadah semata karena Allah), kemudian di tengah berubah maka hal tersebut diampuni, insyaallah. Bagaimanapun, jika niat di akhir berbeda dengan yang di awal, seperti kita melakukan sesuatu kemudian niat untuk selain Allah, maka kita harus bertaubat (repent).

###

Ada 4 hal yang berlawanan dengan ikhlas :

1.       Maksiat – Berbuat dosa, hal ini melemahkan keikhlasan kita

2.       Syirik – Meenyektukan Allah

3.       Riya – Melakukan ibadah dengan niatan untuk memperihatkan kepada orang

4.       Nifaq – Kemunafikan

Bahkan, akhirnya, kita harus selalu melakukan seusuatu dengan tidak menyimpang dari niat keikhlasan. Dalam amalan yang kita laksanakan, harus secara otomatis menghadirkan niat baik. Semisal, mencari ilmu pengetahuan, menolong orang lain, melakukan dakwah, dsb.

###

Beberapa hukum/pembahasan fiqih yang disarikan (derived) dari hadis di atas :

1.       Ketika seseorang bersumpah menggunakan kata “demi Allah”, niat mereka yang sebenarnya bukan untuk bersumpah kepada Allah. Mereka mengatakan hal tersebut secara spontan (simply) dan karena tradisi-secara spontan (readily) keluar dari lidah mereka, Namun (hence), hal tersebut tidak berbahaya (harmless). Bagaimanapun, seseorang muslim seharusnya mengurangi kebiasaan tersebut.

2.       Jika seseorang mengambil sumpah (oath), maka yang dinilai adalah niat mereka mengatakan sumpah tersebut

3.       Seseorang bisa memadukan niat antara beribadah dengan tugasnya mengajar orang, kita melakukan ibadah karena Allah Swt akan tetapi kita juga mampu mengaplikasikan niat tersebut saat kita sedang mengajar orang lain. Contohnya adalah Ketika Nabi Muhammad Saw melakukan haji, beliau melakukan hal tersebut murni karena Allah Swt sembari mengajari pengetahuan kepada sahabat (the companions)

4.       Seseorang yang melakukan siding perceraian, secara lisan atau pengadilan, itu yang dinilai nanti adalah niatannya

5.       Sesuatu yang kita anggap sebagai ghibah (membicarakan keburukan orang dari belakang, kendati hal tersebut benar), itu bisa bernilai sebagai senda gurau atau doa. Jika seseorang memang melakukan hal tersebut hanya untuk membicarakan keburukannya, niatnya yang menentukan apakah hal tersebut dinilai sebagai ghibah atau bukan

###

Kesimpulan

Apa yang kita lakukan itu tergantung (undermined) niat kita, apakah hal tersebut atau baik. Maka dari itu, kita harus memeriksa Kembali niat kita sebelum kita melakukan atau mengucapkan sesuatu. Kita harus yakin bahwa perbuatan yang kita lakukan karena Allah maka akan diterima oleh Allah Swt dan akan diberikan ganjaran oleh-Nya, insyaallah.

Tag : Hadis,Translate Training, Arbain Nawawi, Jamal Ahmad Badi

Back to top