Tampilkan postingan dengan label Arbain Nawawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arbain Nawawi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2021

Mengenal 5 Rukun Islam (Syarah Hadis Arbain Nomor 03)


Hadis 3

Diriwayatkan dari Abu Abd al-Rahman Abdullah bin Umar bin al-Khattab radiyallahu anhuma, bahwasanya beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Islam dibangun di atas lima perkara ; bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke Makkah dan puasa pada bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Latar Belakang

Hadis ini merupakan bagian dari hadis sebelumnya (hadis ke-2). Hampir semua sarjana mengatakan mengapa Imam an-Nawawi memasukkan hadis ini ke dalam koleksi Arbain-nya, meskipun ia terkesan mengulang isi hadis kedua, hal ini tidak lain karena pentingnya 5 rukun islam tersebut

Hadis ini menekankan (stresses) aspek dasar pembuktian (outward) kepatuhan (submission) kepada Allah. Kepatuhan ini dibangun di atas lima rukun, sebagaimana struktur. Jika seseorang memenuhi (fulfil) rukun ini, ia telah membangun (laid) fondasi yang kuat untuk agama ini sebagai rumahnya.

Aspek-aspek lain dalam Islam, yang tidak disebutkan dalam hadis ini, bisa dilengkapi guna melengkapi sturktur bangunan Islam.

Jika seseorang gagal untuk memenuhi kewajiban beragamanya (diibaratkan dengan membangun tiang-tiang), maka seluruh struktur agama ini akan terancam (threatened). Ini semua tergantung (depends) bagaimana ia membuat sebuah kesalahan (violated), kerusakan (dosa) paling parah adalah saat ia merusak bagian syahadat.

Pelajaran

Penggunaan Metafora dan Perumpamaan

Hadis ini menggunakan metafora (laksanan membangun struktur bangunan) untuk menegaskan (affirm) kepastian (certain) akan makna-makna yang penting.Penggunaan metafora dan perumapaamn ini bisa ditemukan di banyak tempat di surat-surat dalam al-Qur’an dan banyak hadis. Contohnya adalah ;

-          Dalam surat at-Taubah ayat 109, di mana di sana digunakan perumpamaan serupa. Struktur yang dibangun oleh amalan orang beriman dibangun di atas pondasi yang kuar, sedangkan keberagamaan munafik dibangun di atas pondasi yang lemah yang bisa saja menyebabkan struktur yang runtuh (collapse), memisalkan bahwa munafik akan memasuki neraka.

-          Surat An-nur ayat 35, dipakai di sana penggunaan perumpamaan cahaya di mana cahaya tersebut merupakan perumpamaan dari hidayah yang ada di hati seorang beriman

-          Perumpamaan juga dipakai untuk memvonis mereka yang gagal memenuhi Amanah (kewajiban agama) bisa ditemukan di surah al-Jumuah ayat 5. Bani Israil yang tidak mematuhi kewajiban Allah dalam Taurat, digambarkan seperti keledai yang membawa (burdened) buku berat di punggung akan tetapi mereka tidak mampu membacanya dan memahaminya. Beberapa sarjana mengatakan bahwa perumpamaan tersebut juga disematkan bagi yang lalai untuk menjalankan amanahnya

-          Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw membagi umatnya menjadi 3 kategori. Ada yang menerima risalah secara sempurna, ada yang Sebagian dan ada yang tidak sama sekali. Nabi Muhammad Muhammad menggunakan perumpamaan hujan yang jatuh ke bumi, struktur tanah yang berbeda-beda (dengan kadar peresepan yang berbeda-beda) menghasilkan hal yang berbeda pula

-          Penggunaan perumpamaan dalam menyampaikan risalah kenabian merupakan alat terpenting dan ini merupakan metode yang dipakai dalam al-Qur’an dan hadis. Banyak sekali mode penyampaian yang dipakai oleh al-Qur’an dan hadis yang digunakkan dengan tujuan yang beragam pula. Berkaitan dengan miskonsepsi dan kesalahan asumsi para kuffar, Qur’an dan Hadis memakai pola pikir rasional. Ketika menggambarkan surga dan neraka, mereka memakai al-Qur’an dan hadis dalam mode ekspreional, quran hadis menggambarkan sangat detail dan menampakkan surga dan nerakan seakan berada di depan kita

-          Salah seorang sahabat mengatakan bahwa dirinya telah melihat surga dan neraka. Para sahabat lain bertanya, ‘bagaimana bisa dia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat sampai hari kiamat nanti. Dia menjawab, ‘Saya melihat surga dan neraka melalui mata (pandangan) Nabi Muhammad. Jika saya diberikan kesempatan (chance) untuk melihat keduanya, saya juga tidak akan percaya pandangan saya. Saya hanya percaya kepada pandangan Nabi Muhammad, bahkan melebih pandangan saya sendiri.. Dari sana kita berkesimpulan bahwa jika membaca dan memahami al-Qur’an dan hadis maka kita juga mendapatkan visualisasi surga dan neraka.

-          Mode penyampaian yang dipakai oleh al-Qur;an ini harus dipahami dan dipakai oleh muslim dalam menyampaikan risalah islam saat sedang berdakwah merupakan langkah yang sangat efektif. Perbedaan gaya berdakwah harus dipakai untuk mengajar orang yang berbeda juga, terkadang orang emosional terkadang orang rasional.

Rukun Pertama : Syahadat

Bagian pertama syahadat adalah persaksian (testifying) bahwa tidak ada yang layak (worthy) untuk disembah melainkan Allah. 

Berikut ada tujuh hal yang menjadi komponen syahadat : 

1. Pengetahuan (knowledge) - Untuk memahami apa yang dimaksudkan (dari syahadat)

2. Keyakinan (certainty) - untuk menerima tanpa keraguan (doubt) segala hal yang terkandung (confirmed) dalam Alquran dan hadis
 
3. Penerimaan  (acceptance) - baik melalui lisan atau hati tentang segala implikasi dari makna Syahadat

4. Kepatuhan (submission/compliance) - dalam bentuk pengaktualisasian melalui amalan jasmaniyah

5. Truthfulness (kejujuran) - untuk mengatakan syahadat secara tulus, dengan kejujuran, untuk menerapkan makna syahadat tersebut

6. Ketulusan (sincerity) - yakni melaksanakan semuanya semata2 (solely) karena Allah SWT

7. Cinta (love) - untuk mencintai syahadat dan untuk mencintai segala turunan dan syarat-syaratnya serta siap memperjuangkannya

Syahadat tidak sesederhana yang kita ucapkan dengan mulut kita. Kita dituntut mengikuti (adhere) seluruh instrumen yang terkandung di dalamnya. Jika kita mengamalkan syahadat dengan ketulusan dan kejujuran, kita tidak akan melakukan sesuatu yang kontradiksi atau melanggar makna syahadat itu sendiri.

Bagian kedua syahadat mengharuskan kita : 

- Untuk percaya kepada Nabi Muhammad Saw dan segala hal yang disampaikannya (told and conveyed) kepada kita

- Untuk mematuhinya dalam segala hal yang diperintahkannya

- Untuk menjauhi (avoid) segala hal yang dilarangnya

- Untuk mencontohnya dalam ibadah kita, akhlak kita dan jalan hidup kita

- Untuk mencintainya melebihi diri kita sendiri, keluarga kita dan semua hal di dunia

- Untuk memahami, mempraktikkan dan menyebarkan ajarannya Dengan jalan terbaik, tanpa kekacauan, permusuhan (enemity) dan tanpa menyakiti yang lain (harm)

Rukun Kedua : Mendirikan Shalat

Sebagian orang menafsirkan hadis ini dengan iqamatus shalah yang bermakna melakukan salat. Iqamatus shalah memiliki makna yang lebih luas ketimbang melakukan salat. 

Iqamatus shalah memiliki implikasi : 

1. Seseorang harus melakukan wudhu dengan benar (proper way)

2. Seseorang harus melakukan salat pada waktunya

3. Seseorang  harus melakukan jamaah - yang mana pahalanya adalah 27 kali ketimbang salat sendiri

4. Seseorang harus memenuhi 6 ketentuan (rukun) dalam salat

5. Seseorang harus mengamati tata krama salat, seperti ketundukan dan kerendahhatian saat melaksanakan salat

6. Seseorang yang perlu melaksanakan amalan sunnah salat (preferable action in shalah)

Hal ini penting untuk ditunaikan syarat-syaratnya dan tidak melanggarnya, jika memang kita berkomitmen untuk menunaikan rukun Islam yang kedua tersebut. 

Kita harus ingat bahwa Allah pada mulanya memerintahkan kepada kita untuk salat lima 10 waktu meski akhirnya alah menguranginya menjadi lima waktu (dengan ganjaran 50 waktu) --- pembagian waktu salat yang cukup menyeluruh tersebar di sepanjang hari ini (very reasonably spread out throughout the day) --- mampu membantu kita untuk mengatur urusan2 kita. 

Anjuran bagi muslim untuk melaksanakan jamaah (congregation) dan seruan untuk peduli menolong sesama, mampu meningkatkan solidaritas. Maka salat tidak lagi dipandang sebagai beban, sebagaimana mungkin dipandang sebagian muslim pada hari ini

Rukun ketiga : Zakat

Membayar zakat diwajibkan oleh Rasulullah Saw benda2 tertentu, sesuai kadar2 tertentu dan dengan syarat2 tertentu. Segenap sarjana mengatakan itulah makna zakat yang diwajibkan ketika seseorang memiliki kemampuan atau sesuatu yang membuatnya wajib. Petani dan pedagang harus tahu syarat dan kadar kepemilikannya yang dengannya dia diwajibkan membayar zakat.

Rukun Keempat : Haji

Berhaji ke rumah Allah merupakan suatu kewajiban yang harus kita laksanakan 1 kali sepanjang hidup - yakni hanya ketika kita mampu memenuhi jalannya/panggilannya, seperti ketika kita mempunyai finansial yang cukup, kondisi perjalanan yang aman dan lain sebagainya. 

Apabila kita memenuhi kondisi kondisi tersebut kemudian kita wajib untuk menunaikan Haji tersebut semampunya dan jangan sampai menundanya. 

Beberapa sarjana mengatakan bahwa apabila kita sudah melaksanakan Haji beberapa kali, maka lebih baik bagi kita untuk menggunakan uang yang kita punya untuk menolong yang lain memenuhi kebutuhan mereka - kita bisa memberangkatkan haji orang atau menggunakan uang tersebut untuk perbaikan komunitas. 

Untuk setiap rukun agama itu memiliki syarat-syarat yang harus kita laksanakan, begitupun sunah-sunahnya, adab-adabnya dan lain sebagainya. Dan kita harus memperhatikan (observe) hal2 tersebut. 

Mengapa kita selalu mendengar bahwa setiap tahun ada ratusan orang muslim yang kehilangan nyawa atau tertimpa musibah ketika melaksanakan haji? Kebanyakan kecelakaan itu disebabkan karena kelalaian mereka dalam memperhatikan adab atau melanggar sunnah-sunnahnya. Sebagai contoh adalah dalam pelaksanaan pelemparan batu di jamarat.

- kendati kita diarahkan (supposed) untuk menggunakan batu kecil namun orang-orang tetap memakai batu yang besar dan melempar dengan cerobohnya dari jarak yang jauh hal tersebut akan melukai orang lain

- orang-orang tidak mengikuti arahan spesifik ketika mereka pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hal ini menyebabkan adanya kekacauan berupa gelombang manusia yang pindah berbarengan dengan gelombang yang lain, disebabkan instruksi yang berbeda (different direction)

- orang-orang memaksa untuk pergi melempar batu pada waktu puncak keramaian, pada kondisi yang paling sibuk dalam satu hari tersebut. Orang-orang tua, perempuan dan cacat padahal sudah diarahkan untuk melakukan pelemparan batu ketika tidak sedang terlalu ramai.

Maka hal ini penting bagi kita untuk memperhatikan etika etika pelemparan batu.

Rukun Kelima : Puasa Ramadhan

Ramadan adalah ah momentum bagi seluruh umat muslim untuk melakukan ibadah yang baik sehingga mampu menjadi muslim yang lebih baik. Bagaimanapun kita harus melanjutkan kebaikan kebaikan ini di luar bulan Ramadan, seperti salat di masjid, tahajud, qiyamul lail, membaca Alquran, menolong dan peduli kepada orang lain. 

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya kapan waktu terbaik untuk menamatkan bacaan Alquran, beliau menjawab baiknya di bulan ini yakni bulan Ramadan. Dengan membaca 1 juz per hari. Hal ini wajib kita praktikkan sepanjang waktu dan tidak hanya pada bulan Ramadan saja. Apabila kita tidak mampu mencapainya, minimal kita mencoba untuk membaca 1 atau 2 halaman per hari. 

Demikian pula kita harus mencoba melaksanakan tahajud, meskipun hanya dua rakaat dan tidak setiap hari, di luar bulan suci Ramadan.

Kita tidak mesti melakukan komitmen personal untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah yang mana syariah tidak mengajarkan hal tersebut. Hal ini mungkin mampu mengarahkan kita untuk membuat sebuah komitmen untuk mengamalkan hal-hal yang baik. Hal tersebut merupakan cara terbaik dan termudah untuk tujuan menciptakan amal ibadah yang berkelanjutan. 

Kesimpulan

Seluruh rukun agama Islam memiliki aturan-aturan syarat-syarat dan hukum serta etika yang kita wajib untuk memperhatikan hal tersebut. Wajib bagi kita untuk mengetahui hukum-hukum dan adab tersebut yang bisa memperingatkan kita semua khususnya sebelum Ramadhan dan sebelum melaksanakan ibadah haji, maka kita dengan hal tersebut mampu melaksanakan rukun-rukun Islam tersebut sesuai dengan ajaran Syariah.

Rabu, 04 Agustus 2021

Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Serta Adab Mencari Pengetahuan (Syarah Hadis Arbain Nomor 02)

 

Tulisan ini merupakan terjemahan Syarah hadis Arba'in An-Nawawi yang ditulis oleh Jamal Ahmed Badi. Buku tersebut terbit dengan judul Sharh Arba'een an Nawawi : Commentary Of Forty Hadiths Of an-Nawawi. Terjemahan ini merupakan upaya pemilik blog untuk melatih keterampilan menerjemah, tidak untuk dikomersilkan 

HADIS 2

Dari sahabat Umar radiyallahu anhu, ia berkata :

“Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah Saw, datang (appeared) seorang laki-laki mengenakan (dressed) pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Tidak ada jejak (trace) bahwa ia sedang melakukan perjalanan, dan tidak ada dari kami yang mengenalnya.

Dia duduk (sat down) dekat (close) dengan Nabi Saw, meletakkan (rested) lututnya berhadapan dengan paha (thigh) Nabi dan berkata, ‘Wahai Muhammad, beritahu aku tentang Islam.’ Nabi menjawab, ‘Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu menunaikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baitullah, jika kamu mampu melaksanakannya.’ Seorang tersebut berkata, ‘Kamu benar wahai Muhammad’

Kita semua terheran (astonished) dengan prilakunya yang bertanya tapi kemudian membenarkannya, tapi kemudian ia melanjutkan pertanyannya, ‘Wahai Muhammad, beritahu saya tentang Iman (faith)’, Nabi menjawab, ‘Yakni kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Takdir (fate), baik itu yang baik atau buruk. Dia menjawab, ‘Kamu benar wahai Muhammad’

Kemudian ia berkata lagi, ‘Beritahu saya tentang Ihsan’, Nabi Muhammad menjawab, ‘Yakni kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, seandainya kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu’. Dia berkata lagi, ‘Beritahu saya tentang kiamat’, Rasulullah Saw menjawab, ‘Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya’, ia bertanya lagi, ‘Baik, coba beritahu tanda-tanda kiamat’ Rasulullah Saw menjawab, ‘Yakni seorang pembantu (slave) melahirkan majikannya (mistress), engkau juga akan mendapati seorang bertelanjang kaki (barefoot), telanjang, miskin (destitute) dan berstatus penggembala domba di mana di antara mereka berlomba memegahkan (lofty) bangunan. Kemudian orang tersebut beranjak pergi.

Saya terdiam sejenak, dan Rasulullah Saw berkata, “Wahai Umar, tahukah kamu siapa tadi yang bertanya?’ Saya menjawab, “Allah dan Rasulullah Saw lebih paham’, Rasulullah Saw menjawab, “Itu tadi adalah Jibril. Dia datang untuk mengajari kalian tentang agama kalian.” (HR. Muslim)

###

Latarbelakang

Imam Muslim berkata, “Menjelang akhr hayatnya, Abdullah bin Umar (putra Umar bin al-Khattab) diberitahu oleh dua orang bahwa telah lahir sekte baru di Irak. Mereka dinamai Qadariyah dan mereka menolak (denied) adanya takdir. Maka Abdullah bin Umar membacakan hadis ini yang menegaskan bahwa Qadar merupakan salah satu pilar iman untuk menyangkal (refute) kesalahpahaman ajaran sekte tersebut.

###

Pelajaran

Hadis ini mengajar beberapa etika dalam mencari ilmu :

1.       Kita harus dalam keadaan bersih dan mengenakan pakaian bersih

2.       Kita harus duduk dengan sopan (properly) dan dekat (closer) dengan pembicara/guru

3.       Menanyakan sebuah pertanyaan untuk pemahaman yang lebih baik

4.       Mencari ilmu dari sumber yang otoritatif

 

Salah Satu metode mencari ilmu pengetahuan adalah dengan bertanya pertanyaan :

1.       Pertanyaan yang diajukan haruslah bermakna dan berbobot – pertanyaan harus bernilai (valuable) intelektual dan bagus

2.       Pertanyaan bagus yang dilancarkan untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus bernilai sebuah pengajaran. Yaitu mereka yang Ketika bertanya, ia sembari belajar dari jawaban orang lain, maka sebenarnya ia juga sedang mengajarkan yang lain

3.       Ketika Ibn Abbas, salah seorang sahabat terbaik, ditanya bagaimana ia bisa mendapatkan ilmu yang dimilikinya, ia menjawab, “Ini karena lidah yang selalu ingin tahu (beliau kerap menanyakan ilmu kepada siapapun, termasuk Rasulullah) dan perenungan hati yang dalam”

4.       Dalam banyak hadis, Rasulullah Saw sering mengawalinya dengan pertanyaan sebelum beliau menyebarkan ilmunya. Menanyakan pertanyaan (dalam kaitannya dengan proses pengajaran) menuntut persiapan otak/hati untuk menerima ilmu pengetahuan- pertanda agar bersiap untuk menyerap dan menerima pelajaran. Dalam hadis ini, Jibril yang bertindak sebagai penanya, menampakkan apresiasi yang bagus dan dorongan yang kuat untk bertanya, hal ini khususnya karena ia semangat menerima pengetahuan yang banyak

5.       Dalam al-Qur’an sendiri terdapat 1.200 pertanyaan, dalam tema yang beragam, yang berguna untuk memancing (provoke) otak pembaca dan memaksa mereka untuk menghadirkan (indulge) pikiran dan kesadarannya saat membaca al-Qur’an

###

Segenap sarjana berpandangan bahwa qadar bisa disikapi menjadi dua tingkatan :

1.       Kita memercayai bahwa Allah, dengan sifat ke-MahaTahu-an-Nya, mengetahui semua ciptaan-Nya dan apa yang terjadi pada semuanya bahkan sebelum semuanya diciptakan. Allah mencatat secara rinci ini semua dalam Al-Lauh al-Mahfuzh- tempat penyimpanan memori (preserved tablet)

2.       Kita memercayai bahwa semua yang terjadi di semesta ini telah Allah tetapkan, entah itu takdir baik atau buruk

Dalam menciptakan takdir semesta ini, Allah mempertimbang kesediaan (willingness) kemampuan (ability) kita dalam menunaikan takdir kita. Jadi kita hanya diperintah untuk melaksanakan yang kita mampu saja. Bagaimanapun, kita bertanggungjawab (responsible) atas semua pilihan yang kita ambil

###

Miskonsepsi Terkait Qadar

Banyak muslim percaya bahwa apa yang tengah berjalan dalam kehidupan mereka adalah disebabkan oleh takdir yang sudah ditulis di Al-Lauh al-Mahfudz – mereka mencampuradukkan antara hubungan sebab akibat dengan asosisi pilihan. Yang benar adalah bahwa apa yang kita lakukan itu berkaitan dengan asosiasi pilihan yang kita buat (assocation), bukan karena hal tersebut disebabkan oleh apa yang telah tertulis di Lauh al-Mahfuz (causation). Apa yang kita lakukan di dunia ini bukan karena kita ‘dipaksa-digerakkan’ atas apa yang tertulis di Lauh al-Mahfuz. Allah, dengan sifat Ke-Mahatahuan-Nya memang sudah mengetahui apa yang kita lakukan di dunia ini.

Dia bisa saja dengan mudahnya bisa mengarahkan orang-orang baik ke surga dan orang-orang jahat ke neraka. Akan tetapi Allah itu adil (Just), Dia menciptakan kita manusia untuk menguji jalan mana yang akan kita tempuh. Bahwa ternyata apa yang kita lakukan itu sejalan dengan yang tertulis di Lauh al-Mahfuz, itu bukan karena disebabkan karena memang telah tertulis demikian – Apa yang kita lakukan ini adalah berdasarkan kesediaan dan kemampuan kita dan kita akan bertanggungjawab atas pilihan yang kita ambil

Jika melihat kepada fenomena pemberian hidayah (guidance) dan penyesatan (misguidance), hidayah merupakan rahmat (gift) dari Allah. Ini (hidayah) adalah yang Allah takdirkan untuk kita sehingga kita mampu membedakan (distinguish) yang mana kebenaran dan mana yang kebatilan untuk keyakinan kita. Allah-lah yang melengkapi kita dengan fitrah – kemampuan asasi menyukai hal yang baik dan membenci hal yang buruk, dan Allah-lah yang mengirimkan kepada kitab Rasul untuk membimbing kita, yang membawa kita kepada pencapain konsepsi (hidayah islam). Maka, diberikannya kepada kita hidayah, ini merupakan karunia (bounty) dari Allah Swt.

Akan tetapi jika yang datang adalah kesesatan, maka itu datangnya karena kita sendiri. Jika kita melakukan hal buruk, itu datang dari kehendak dan kemampuan kita melakukan hal tersebut.

Mereka yang berpaling dari hidayah, itu karena mereka menginginkan hal tersebut, mereka tidak memilih mau untuk dibimbing (guded). Mereka sesat (misguidance) karena mereka arogan dan menolak (refuse) untuk mendengarkan

Firman Allah : Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Shaff : 5)

Namun (nevertheless), mereka yang tidak mendapati pengiriman Rasul Islam atau tidak menerima risalah (has not reached them), maka dihukumi tidak sempurna menerima risalah kenabian. Mereka disebut juga sebagai Ahlul Fatrah, mereka akan dihakimi namun tidak dihukum, sekalipun mereka melakukan kesalahan (misguidance).

###

Ini adalah beberapa hal yang bisa kita sikapi terkait ketetapan Qadar. Misalnya :

1.       Sakit yang kita alami adalah qadar/takdir. Akan tetapi kita, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi, diharuskan mencari obat untuk menyembuhkan penyakit. Mencari obat untuk penyembuhan juga merupakan qadar. Maka, satu qadar bisa diatasi (dealt) dengan melaksanakan qadar yang lain

2.       Jika hal apes terjadi pada kita, seperti kehilangan pekerjaan, kita jangan hanya mengatakan itu qadar saja tanpa bertindak apa-apa. Kita harus mencari pekerjaan yang lain, konsekuensi untuk mencari qadar yang lain.

Dikisahkan, bahwa suatu hari Umar bin al-Khattab tengah berjalan bersama segerombolan sahabat saat ia menjadi khalifah. Mereka tiba di suatu kota di mana kota tersebut dijangkiti wabah kolera. Umar bertanya kepada kawanan tersebut, apakah mereka lanjut jalan menuju kota tersebut atau kembali ke Madinah. Mayoritas para sahabat mengatakan bahwa mereka menginginkan kembali ke Madinah, akan tetapi sebagian mereka memilih untuk melanjutkan perjalanan.

Kemudian, salah seorang sahabat Nabi mengucapkan sebuah hadis, “Jika kamu mendengar bahwa ada suatu negara yang tengah diserang wabah, jangan kamu bepergian ke sana.” Kemudian Umar memutuskan untuk kembali ke Madinah. Dan seorang sahabat (yang kemungkinan dari kelompok yang memilih melanjutkan perjalanan) bertanya kepada Umar ‘apakah (dengan inisiatifnya ia kembali ke Madinah tersebut) merupakan bentuk pelarian dari Qadar?’ Umar menjawab bahwa ia hanya pindah dari satu qadar (takdir) ke qadar yang lain.

Maka, setiap engkau mengalami sebuah masalah, tantangan atau kesulitan yang memungkinkan untuk kita hilangkan, maka atasi dan tuntaskan atau minimalisir, ini yang mesti kita lakukan. Beberapa sarjana seperti Imam al-Jilani menggunakan kata ‘mengatasi takdir (qadar)’ dalam menanggapi permasalahan ini.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda, “Cintailah segala hal yang bermanfaat buatmu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah ceroboh.” Hadis ini menyiratkan (implies) bahwa kita harus melakukan sebuah upaya. Konsep yang benar dalam menyikpadi qadar : bertanggungjawab atas semua yang kita lakukan

Sebagai misal : apabila kita berkendara secara ceroboh dan menyebbakan sebuah kecelekaan di mana salah seorang kehilangan nyawa atau menderita, kita tidak bisa secara sederhana mengatakan bahwa itu qadar, dengan menyalahgunakan konsep qadar untuk menjustfikasi kesalahan kita. Kecelakaan tersebut memang merupakan qadar yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Akan tetapi kita bertanggungjawab atas kematian seseorang tersebut akibat kelakuan yang kita perbuah (our willingness and ability). Itulah mengapa pengadilan akan memvonis kita bersalah (guilty))). Jika qadar bisa kita salahgunakan, maka setiap criminal yang terjadi tidak akan dihukum – karena perampok (thief) akan mengklaim bahwa pencurian (stealing) yang dilakukan tersebut didasari oleh takdir (qadar)!

###

Mereka yang kerap menyalahkan takdir adalah orang yang tidak bertanggungjawab. Mereka memperalat kata takdir hanya untuk menjustifikasi kegagalannya. Pengertian yang benar mengenai qadar adalah sebagai berikut : jika seseorang sudah mengerahkan (exerts) energi terbaiknya untuk memenuhi (fulfil) kewajiban (obligation) akan tetapi mendapati kejadian yang tidak dapat dihindari (unavoidable circumstance), hal tersebut di luar kontrolnya, dia tidak mampu menunaikan kewajiban tersebut- makai ia dimungkinkan untuk diampuni (excused).  Sebagai contoh, seorang siswa yang telah belajar sungguh-sungguh untuk ujian akan tetapi saat tiba waktu ujian dia sakit dan lemah atau tidak mampu menghadiri ujian, hal tersebut layak untuk disebut dengan qadar/takdir dan hal tersebut adalah kehendak Allah Swt

Jika dikaitkan dengan kewajiban beragama, hal tersebut berlaku sama. Kita tidak bisa menyalah (blame) qadar untuk perbuatan dosa yang kita lakukan atau saat kita tidak menunaikan kewajiban muslim. Kita harus menyadari bahwa hal tersebut adalah tanggungjawab kita. Kita mungkin saat itu tengah berada pada status iman yang lema, yakni saat melakukan dosa atau meninggalkan kewajiban. Islam adalah agama yang memberikan kita ruang untuk bertobat dan menginstropeksi diri Kembali menuju jalan yang baik.

###

Pada hadis di atas, Rasulullah Saw mendefinisikan Islam sebagai lima pilar yang merupakan Gerakan lahiriah, iman sebagai asosiasi keyakinan-membahas wilayah hati, dan al-Ihsan sebagai level tertinggi yang bisa dicapai.

Akan tetapi, dua definisi pertama (iman dan islam) mampu untuk dipertukarkan antara satu dan lainnya – kadang-kadang Islam dipakai untuk menggambarkan hal batiniah sedankan iman bermakna amalan lahiriah. Ada beberapa hadis nabi Muhammad Saw yang menyebutkan bahwa ada lebih dari 70 cabang iman (yang di antara cabang tersebut ada amalan yang bersifat lahiriah, penj)

Jika kata Islam dipakai untuk internal kita, maka yang dimaksud adalah kesemuanya-Al-Islam, Al-Iman dan al-Ihsan. Serupa, Ketika kata iman dipakai, itu artinya mencakup keislaman, keimanan dan keihsanan. Nabi Muhammad Saw menyebutkan akhir hadis tersebut dengan ungkapan bahwa agama kita (islam) terdiri dari tiga hal tersebut (iman, islam dan ihsan)

###

Jika iman kita lemah itu memangaruhi keislaman kita. Sebagaimana dikatakan Abu Hanifa : Meksipun Iman dan Islam berbeda, tapi iman memburuhkan aplikasi (islam)

Beberapa sarjana mengatakan bahwa muslim lebih unggul disbanding kafir, mu’min lebih unggul disbanding muslim dan muhsin lebih unggul ketimbang mukmin

###

Ihsan (level tertinggi dari keimanan di mana seseorang beribadah seakan melihat-Nya dan apabila tidak melihat-Nya maka Dia melihat kita) ini adalah adalah terkait dengan ketakutan pemuliaan kita kepada-Nya. Hal in akan membimbing kita untuk melakukan ibadah terbaik-kita berharap bisa tulus dalam beribadah. Jadi, al-Ihsan juga soal reaksi terbaik dari hati. Sikap yang dilahirkan dari Ihsan : mencintai Allah, takut kepada Allah, meminta pertolongan kepada Allah, berharap kepada Allah karena ia telah memberikan kepada kita belas kasih sayang dan hidayah, kita memercayai akan kemuliaan Allah.

###

Ketika Jibril alayhissalam menanyakan Nabi Saw tentang hari kiamat (the day of judgment), Nabi Muhammad mengatakan bahwa Jibril lebih tahu tentang jawaban tersebut. Ini adalah contoh yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Saw, di mana seseorang dengan luasnya (vast) keilmuan beliau, beliau tidak menguasasi semua ilmu pengetahuan, dan beliau mengakuinya (admit)

Imma Malik suatu Ketika ditanya dengan 40 pertanyaan dan banyak dari pertanyaan tersebut dijawab, “saya tidak tahu-Allah lebih mengetahuinya”. Orang tersebut terkejut dengan reaksi Imam Malik yang tidak mampu menjawab pertanaan. Melihat reaksi tersebut, Imam Malik memberitahukankepada orang tersebut, alasan mengapa ia ditanyai dengan sjeumlah pertanyaan namun tidak mampu menjawabnya. Imam Malik tidak, lewat jawaban ketidaktahuannya tersebut, ingin agar ia tidak memberi jawaban yang salah. Maka, jika kita selaku pendidik atau sarjana, kita harus memiliki keberanian (courage) untuk mengetahui ketidaktahuan tersebut. Kita harus tidak menjawab pertanyaan jika khwatir kita akan memberikan informasi yang keliru.

###

Tanda-tanda akhirat disebutkan dalam hadis tersebut dengan tanda-tanda kecil, dengan satu yang besar. Kita percaya bahwa akan tanda-tanda ini, akan tetapi kita jangan terlalu dibuat pusing olehnya-kita jangan sampai terlalu kepikiran kira-kira kapan terjadinya (occur) tanda-tanda tersebut. Sejatinya, yang perlu kita waspadai adalah kematian yang buruk, dan kita harus senantiasa menghindari (steer away) dari hal tersebut.

###

Kesimpulan

Hadis ini membahas segala hal tentang Islam : lima pilar agama islam, keyakinan keimanan (termasuk di dalamnya iman kepada qadar), anjuran mencapai level iman tertinggi yakni ihsan, dan adab dalam mencari ilmu dan memberikan ilmu.

Tag : Hadis,Translate Training, Arbain Nawawi, Jamal Ahmad Badi

Selasa, 03 Agustus 2021

Pentingnya Niat Dalam Aktivitas Kita (Syarah Hadis Arbain Nomor 01)


Tulisan ini merupakan terjemahan Syarah hadis Arba'in An-Nawawi yang ditulis oleh Jamal Ahmed Badi. Buku tersebut terbit dengan judul Sharh Arba'een an Nawawi : Commentary Of Forty Hadiths Of an-Nawawi. Terjemahan ini merupakan upaya pemilik blog untuk melatih keterampilan menerjemah, tidak untuk dikomersilkan 

Hadis 1

Diriwayatkan dari Amirul Mu’minin, Abu Hafs Umar bin Al-Khattab, radiyallahu anhu, bahwasanya beliau berkata : Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda “Segala amal perbuatan tergantung niyatnya. Dan setiap manusia akan mendapatkan sesuatu dari yang diniatkannya tersebut. Maka, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya dinilai sebagai hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah untuk dunia yang dicintainya atau kepada perempuan yang dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk keduanya. (Al-Bukhari & Muslim)

LatarBelakang

Hadis ini diucapkan oleh Nabi Saw saat ada seseorang yang berhijrah dari makkah ke Madinah demi perempuan yang dinikahinya dan bukan untuk Islam. Hadis ini dinilai sebagai hadis yang paling baik dalam Islam.

Imam as-Syafi’I berkata : hadis ini adalah sepertiga ajaran Islam. Ia mampu menghasilkan 70 pembahasan dalam kajian fiqih.

Imam Ahmad (dengan merujuk kepada pendapat Imam Syafi’i) berkata : Islam dibangun dari 3 hal dasar (kesemuanya berasal dari hadis yang terangkum dalam Arbain) :

1.       Hadis 1 : Yang sedang kita bahas ini

2.       Hadis 5 : hadis “Barangsiapa melakukan amal ibadah dalam Islam yang tidak ada dalam ajaran kami (ajaran quran dan hadis-penj) maka amal tersebut akan ditolak.

3.       Hadis 6 : Hadis “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya ada hal yang syubhat dan banyak orang terjerumus di dalamnya…”

Tiga hadis ini disepakati  oleh  Bukhari dan Muslim.

Hadis-hadis ini bisa dipahami sebagai 3 kriteria yang menjadi sarana evaluasi dan sebagai motivasi ibadah harian seorang muslim :

1.       Hadis 1 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bagian internal diri (manajemen hati)

2.       Hadis 5 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bagian eksternal diri (ekspresi badaniah)

3.       Hadis 6 : Untuk mengevaluasi dan menyikapi bidang muamalat (interaksi dengan lingkungan social)

 

Niat memiliki dua makna :

1.       Niat sebelum ibadah

2.       Kerelaan/Kesediaan

Pelajaran

Nabi Muhammad Saw, memulai hadis dengan redaksi “Segala sesuatu tergantung amalnya” dan memberikan 3 contoh. Ini merupakan metodologi yang dipakai oleh Nabi Muhammad Saw. Contoh-contoh yang ada dalam hadis membantu mengilustrasikan prinsip-prinsip yang mudah dipahami seorang muslim dan (dengan hal tersebut) mereka mampu mengaplikasikan prinsip terrsebut di situasi serupa.

Tiga contoh tersebut terdiri dari niat bagus (hijrah demi Allah dan Rasulullah Saw) dan dua niat buruk (hijrah karena dunia dank arena mengejar perempuan yang dinikahi).

 

Hadis di atas menekankan nilai ikhlas (ketulusan-beribadah kepada Allah semata, menjalankan perbuatan untuk Alah di manapun ia berada tanpa pengecualian). Ikhlas adalah salah satu penyebab diterimanya ibadah di sisi Allah. Di sisi yang lain, amal perbuatan kita harus sesuai dengan Syariah, hal ini sebagiamana dimaksud dalam hadis ke-5.

Dari syahadah kita bisa memahami beberapa hal :

1.       “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah” ini adalah bentuk keikhlasan-memastikan bahwa kita melakukan segala sesuatu samata-mata karena Allah Swt

2.       “Saya bersaksik bahwa Muhammad adalah utusan Allah”-Sunnah adalah manifestasi al-Qur’an. Nabi Muhammad Saw, panutan kita, merupakan teladan terbaik yang harus kita ikuti. Mengikuti Sunnah Muhammad dalam ibadah kita, akhlaq dan muamalat merupakan sebuah upaya memastikan bahwa apa yang kita lakukan bersesuaian dengan syariat.

Jadi, syahadat menunjukkan kepada kita sebuah pelajaran bahwa jika amalan kita ingin diterima Allah Swt adalah harus : a) Dilakukan semata karena Allag karena Dialah satu-satunya yang patut disembah, 2) Dilakukan sesuai dengan syariah

###

Untuk menerapkan keikhlasan, kita harus menghindari (avoid) syirik (menyekutukan Allah, kasus ketidaktulusan beribadah). Imam Harawi berkata bahwa akar dari ketidaktulusan (Syirik) adalah hawa nafsu. Untuk itu, ibadah tidak akan maksimal dikarenakan hawa nafsu.

Imam al-Harawi mengatakan bahwa hawa nafsu ada 7 macam :

1.       Nafsu untuk menciptakan kekaguman terhadap diri sendiri dalam pandangan orang lain

2.       Nafsu untuk mencari sanjungan orang lain

3.       Nafsu untuk tidak menerima diirnya disalahkan

4.       Nafsu agar dipuji orang lain

5.       Nafsu untuk mencari kekayaan

6.       Nafsu mendapatkan perlayanan atau cinta dari orang lain

7.       Nafsu untuk menolong orang lain

###

Beberapa jalan untuk menjadi ikhlas :

1.       Bersikap Adil. Semakin kita bersikap baik (good deeds) dan mendekat kepada Allah Swt, semakin kita tulus dalam beribadah kepada Allah Swt

2.       Sebelum melakukan ibadah, pertama kita harus mencari ilmu atas apa yang akan kita kerjakan, yang mana amal ibadah kita akan dibimbing oleh ilmu tersebut, maka dengan itu mereka bisa beribadah sesuai dengan Syariah

3.       Jangan menampilkan kesaksian palsu-Jangan menjadikan orang lain percaya bahwa apa yang kita lakukan itu baik, padahal tidak

4.       Imam Ahmad berkata : Sebelum kamu melakukan sesuatu, periksa niatmu. Tanyakan dalam dirimu sebelum melakukan sesuatu, “Apakah saya melakukan ini karena Allah?”

 

###

Ibn al-Qayyim berkata : Apapun yang kita lakukan pasti akan terdampak tiga hal berbahaya (defect) berikut :

1.       Sadar bahwa segala perbuatan kita disaksikan oleh orang lain

2.       Mengharap balasan atas segala kebaikan yang kita lakukan

3.       Merasa puas atas amal ibadah yang kita lakukan

 

Contoh :

1.       Apabila kita menuju masjid untuk shalat pada awal waktu, datang sebelum imam dan mencari shaf pertama, kita tidak usah bangga atas diri kita seraya berpikir bahwa diri kita lebih baik ketimbang yang lain. Kita harusnya bersyukur kepada Allah atas perkenannya mengizinkan kita shalat dan mampu melakukan shalat tanpa kesulitan

2.       Setiap selesai shalat lazimnya kita menginstropeksi diri kita bahwa apa yang kita lakukan sudah baik dan berharap besok bisa mendapatkan shalat yang lebih baik lagi

###

Apa yang terjadi saat kita mengubah niyat saat berlangsungnya ibadah? Ibnu Rajab mengatakan, menurut pendapat ulama, apabila kita telah melakukan niat yang baik saat awal (melakukan ibadah semata karena Allah), kemudian di tengah berubah maka hal tersebut diampuni, insyaallah. Bagaimanapun, jika niat di akhir berbeda dengan yang di awal, seperti kita melakukan sesuatu kemudian niat untuk selain Allah, maka kita harus bertaubat (repent).

###

Ada 4 hal yang berlawanan dengan ikhlas :

1.       Maksiat – Berbuat dosa, hal ini melemahkan keikhlasan kita

2.       Syirik – Meenyektukan Allah

3.       Riya – Melakukan ibadah dengan niatan untuk memperihatkan kepada orang

4.       Nifaq – Kemunafikan

Bahkan, akhirnya, kita harus selalu melakukan seusuatu dengan tidak menyimpang dari niat keikhlasan. Dalam amalan yang kita laksanakan, harus secara otomatis menghadirkan niat baik. Semisal, mencari ilmu pengetahuan, menolong orang lain, melakukan dakwah, dsb.

###

Beberapa hukum/pembahasan fiqih yang disarikan (derived) dari hadis di atas :

1.       Ketika seseorang bersumpah menggunakan kata “demi Allah”, niat mereka yang sebenarnya bukan untuk bersumpah kepada Allah. Mereka mengatakan hal tersebut secara spontan (simply) dan karena tradisi-secara spontan (readily) keluar dari lidah mereka, Namun (hence), hal tersebut tidak berbahaya (harmless). Bagaimanapun, seseorang muslim seharusnya mengurangi kebiasaan tersebut.

2.       Jika seseorang mengambil sumpah (oath), maka yang dinilai adalah niat mereka mengatakan sumpah tersebut

3.       Seseorang bisa memadukan niat antara beribadah dengan tugasnya mengajar orang, kita melakukan ibadah karena Allah Swt akan tetapi kita juga mampu mengaplikasikan niat tersebut saat kita sedang mengajar orang lain. Contohnya adalah Ketika Nabi Muhammad Saw melakukan haji, beliau melakukan hal tersebut murni karena Allah Swt sembari mengajari pengetahuan kepada sahabat (the companions)

4.       Seseorang yang melakukan siding perceraian, secara lisan atau pengadilan, itu yang dinilai nanti adalah niatannya

5.       Sesuatu yang kita anggap sebagai ghibah (membicarakan keburukan orang dari belakang, kendati hal tersebut benar), itu bisa bernilai sebagai senda gurau atau doa. Jika seseorang memang melakukan hal tersebut hanya untuk membicarakan keburukannya, niatnya yang menentukan apakah hal tersebut dinilai sebagai ghibah atau bukan

###

Kesimpulan

Apa yang kita lakukan itu tergantung (undermined) niat kita, apakah hal tersebut atau baik. Maka dari itu, kita harus memeriksa Kembali niat kita sebelum kita melakukan atau mengucapkan sesuatu. Kita harus yakin bahwa perbuatan yang kita lakukan karena Allah maka akan diterima oleh Allah Swt dan akan diberikan ganjaran oleh-Nya, insyaallah.

Tag : Hadis,Translate Training, Arbain Nawawi, Jamal Ahmad Badi

Biografi Imam Nawawi



Tulisan ini merupakan terjemahan Syarah hadis Arba'in An-Nawawi yang ditulis oleh Jamal Ahmed Badi. Buku tersebut terbit dengan judul Sharh Arba'een an Nawawi : Commentary Of Forty Hadiths Of an-Nawawi. Terjemahan ini merupakan upaya pemilik blog untuk melatih keterampilan menerjemah, tidak untuk dikomersilkan

Biografi Imam Nawawi

Imam Nawawi memiliki umur yang sangat pendek, namun, ia mampu menghasilkan sejumlah buku dari berbagai disiplin keilmuan. Setiap karya yang ia hasilkan bernilai sebagai harta karun pengertahuan yang berharga. Di antaranya adalah :

1.       Riyad al-Shalihin

2.       Sharh Sahih Muslim

3.       Sharh Sunan Abi Dawud

4.       Kitab al-Raudah

5.       Tahdhib-ul-Asma was-Sifat

6.       Arba’een

7.       Mukhtashar at-Tirmidhi

8.       Tabaqat Ash Shafi’iyah

9.       Muhimmatul Ahkam

10.   Al-Adhkar

11.   Al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an

12.   Al-Irshad wa’l-Taqrib fi Ulum al-Hadith

13.   Al-Minhaj

Kitabnya Sharh Shahih Muslim merupakan buku standard kajian hadis dan kitabnya Al-Minhaj dipakai dalam studi Fiqih.

Imam Muhyi al-Din Abu Zakariya Yahya bin Sharaf al-Nawawi, disingkat Imam Nawawi, dilahirkan di sebuah daerah bernama Nawa di daerah sekitar Damaskus pada 631 H (1233M). Dia tumbuh di Nawa dan pada saat umur 19 ia pergi belajar ke Damaskus, sebuah daerah yang dikenal menjadi pusat pembelajaran dan para sarjana.

Ketika berdiam di Damaskus, Imam Nawawi belajar ke lebih dari dua puluh guru terkenal, terdiri dari ahli dan pakar dalam berbagai bidang diisplin keilmuan. Dia belajar hadis, fiqih dan usul fiqih, nahwu dan sharaf, dari beberapa ulama terkenal seperti Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad Al-Maghribi, Abu Muhammad Abdur Rahman bin Ibrahim al-Fazari, Radiyuddin Abu Ishaq Ibrahim bin Abu Hafs Umar bin Mudar al-Mudari, Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi, Abdul Baqa Khalid bin Yusuf An-Nablusi dan Abul Abbas Ahmad bin Salim al-Misri.

Imam Nawawi sangat haus akan ilmu pengetahuan (endless thirst for knowledge). Dia menghabiskan waktunya untuk mmebaca dua belas pelajaran setiap harinya dan menulis catatan keterangan setiap ilmu yang ia pelajari. Setiap buku yang ia baca, dia menulis catatan pinggir dan penjelasan pada setiap buku, Kecerdasannya, kerja kerasnya, kecintaannya, kesetiaan dan keasikannya dalam belajar membuat kagum segenap gurunya dan membuat mereka mengapresiasi Imam Nawawi. Allah juga menganugerahkan kepadanya kecepatan menghafal dan kedalaman pengetahuan. Imam Nawawi sangat memanfaatkan pemberian Tuhan yang sangat berkualitas dan potensial tersebut dan hal tersebut membuat dia mendapatkan penghormatan tertinggi.

Imam Nawawi merupakan pribadi yang soleh, adil dan sederhana. Setelah 20 tahun menimba ilmu di perantauan, ia kembali ke kampong halaman. Kemudian ia tiba di Nawa, ia sakit dan meninggal dunia pada 676 H (1278 M)

Tag : Hadis,Translate Training, Arbain Nawawi, Jamal Ahmad Badi

Back to top